PEDOMANJOGJA

PDI Perjuangan Sleman Dorong Perempuan Ambil Peran Strategis dalam Politik

Redaksi

Redaksi

07 Aug 2026, 09:08 WIB
PDI Perjuangan Sleman Dorong Perempuan Ambil Peran Strategis dalam Politik
Ratusan pengurus dan kader partai dari Pimpinan Anak Cabang atau PAC mengikuti kegiatan sarasehan politik bertema perempuan dan demokrasi "Jas Merah" yang digelar DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sleman.

pedomanjogja.com (Sleman) – Peran perempuan dalam dunia politik dinilai semakin penting seiring meningkatnya kebutuhan akan keterwakilan yang setara dalam proses pengambilan kebijakan. Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan sarasehan politik bertema perempuan dan demokrasi "Jas Merah" yang digelar DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sleman. Hadir dalam acara tersebut, Ketua DPC PDI Perjuangan Sleman sekaligus Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa dan Wakil ketua Komisi X DPR RI Dapil DIY, My Esti Wijayati.


Dalam kesempatan tersebut, Danang Maharsa menegaskan bahwa perempuan memiliki derajat, hak, dan kesempatan yang sama dengan laki-laki untuk berkiprah di berbagai bidang, termasuk politik. Menurutnya, pandangan yang menempatkan perempuan hanya sebagai pelengkap sudah tidak lagi relevan dengan perkembangan zaman.


"Perempuan hari ini harus bisa kita samakan derajatnya dengan laki-laki, baik sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan maupun dalam menjalankan tugas di bidang apa pun, termasuk di dalam politik," ujar Danang.


Ia mengatakan, keterlibatan perempuan menjadi bagian penting dalam mengisi pembangunan dan kemerdekaan bangsa. Karena itu, PDI Perjuangan mendorong keterwakilan perempuan sedikitnya 30 persen dalam struktur kepengurusan partai, mulai dari tingkat pusat hingga ranting.


"Ini bagian dari upaya kita menunjukkan bahwa perempuan juga mempunyai hak berpolitik dan menjadi bagian dari pergerakan," katanya.


Menurut Danang, kondisi tersebut juga relevan dengan Kabupaten Sleman yang memiliki jumlah penduduk perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki. Oleh sebab itu, pendidikan politik bagi perempuan perlu terus diperkuat agar mereka tidak hanya menjadi pendukung, tetapi juga mampu tampil sebagai pemimpin.


"Perempuan bukan hanya sebagai pendukung atau pelengkap laki-laki. Mereka juga punya hak untuk menduduki jabatan dan memimpin. Itu sudah terbukti di Indonesia," ujarnya.


Sementara itu, Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, My Esti Wijayati, mengatakan bahwa kepemimpinan perempuan bukan hal baru bagi PDI Perjuangan. Menurutnya, partai telah lama memberikan ruang yang sama bagi perempuan untuk dipilih maupun memilih dalam kehidupan politik.


"Kalau bagi PDI Perjuangan, ini bukan sesuatu yang asing. Ketua umum kami perempuan, pernah menjadi presiden, banyak juga perempuan yang menjadi anggota DPR RI maupun DPRD. Artinya, semua memiliki hak yang sama dalam politik," kata My Esti.


Ia menjelaskan bahwa pendidikan politik yang diberikan kepada kader perempuan bertujuan membangun pemahaman bahwa keberadaan mereka di struktur partai bukan sekadar memenuhi kuota 30 persen keterwakilan perempuan.


"Kita ingin memahamkan bahwa Anda ada di dalam struktur partai bukan hanya sebagai pelengkap 30 persen. Anda harus mampu mengatakan apa yang akan diperjuangkan dan memberikan makna di tempat Anda berada," ujarnya.


Selain membahas peran perempuan, My Esti juga menekankan pentingnya kader memahami ideologi partai, kondisi politik nasional maupun global, serta tetap berpihak kepada masyarakat yang termarjinalkan. Menurutnya, perjuangan politik tidak semata-mata berorientasi pada elektoral, tetapi juga menjadi sarana memperjuangkan nilai-nilai Pancasila, konstitusi, serta keadilan sosial.


Melalui pendidikan politik tersebut, PDI Perjuangan berharap semakin banyak kader perempuan yang memiliki kapasitas kepemimpinan, memahami persoalan masyarakat, serta mampu berkontribusi dalam proses pembangunan dan pengambilan kebijakan di berbagai tingkatan. (Fzn)


💬 Diskusi Pembaca

0 Komentar

Jadilah yang pertama berdiskusi...