PEDOMANJOGJA

Kisah Ramzy, Kuliah di UGM dan Inggris raih IPK 3,99 Jadi Wisudawan Terbaik

Redaksi

Redaksi

25 Aug 2026, 10:28 WIB
Kisah Ramzy, Kuliah di UGM dan Inggris raih IPK 3,99 Jadi Wisudawan Terbaik
Ramzy Izza Wardhana, Mahasiswa Gadjah Mada (UGM) dan University of Birmingham, Inggris, dinobatkan sebagai wisudawan terbaik dalam wisuda sarjana dan sarjana terapan UGM di Graha Sabha Pramana, Jumat (21/8/2026).

Pedomanjogja.com (Sleman) - Menjadi mahasiswa di dua negara sekaligus bukan perkara mudah. Namun, bagi Ramzy Izza Wardhana, pengalaman membagi waktu antara Universitas Gadjah Mada (UGM) dan University of Birmingham, Inggris, justru menjadi bagian penting dalam perjalanan akademiknya.


Mahasiswa S1 Ilmu Komputer FMIPA UGM itu dinobatkan sebagai wisudawan terbaik dalam wisuda sarjana dan sarjana terapan UGM di Graha Sabha Pramana, Jumat (21/8/2026). Ramzy mencatatkan IPK 3,99, menjadi salah satu capaian akademik tertinggi di antara 3.193 wisudawan program sarjana dengan rata-rata IPK 3,57.


Menariknya, Ramzy mengaku tidak mengetahui sebelumnya bahwa dirinya menjadi salah satu lulusan dengan IPK tertinggi. Ia baru mengetahui pencapaian tersebut ketika namanya disebut dalam prosesi wisuda.


“Saya merasa campur aduk. Ada rasa kaget, sekaligus bersyukur karena ternyata pencapaian itu benar-benar saya raih,” ungkap Ramzy, Senin (24/8/2026).

Lima Tahun Kuliah, Dua Tahun di Inggris


Ramzy merupakan mahasiswa International Undergraduate Program (IUP) Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika (DIKE) FMIPA UGM. Perjalanan studinya berbeda dengan mahasiswa jalur reguler karena ia menempuh pendidikan selama lima tahun.


Satu tahun tambahan tersebut digunakan untuk mengikuti program extension yang memberinya kesempatan menjalani pengalaman akademik dan profesional di Inggris.

Selama masa studinya, Ramzy menghabiskan dua tahun untuk kuliah di Inggris dan satu tahun mengikuti industrial placement atau pengalaman kerja yang dapat dikonversikan menjadi satuan kredit semester (SKS) melalui program MBKM.


“Saya sebenarnya tiga tahun di Inggris, dua tahun kuliah dan satu tahun kerja. Satu tahun kerja itu namanya industrial placement, yang bisa dijalankan bersamaan dengan program MBKM di sini dan dikonversikan menjadi SKS,” jelasnya.


Di Inggris, Ramzy mengikuti program Artificial Intelligence and Computer Science di University of Birmingham. Pengalaman tersebut membuatnya harus beradaptasi dengan sistem pembelajaran yang menuntut kemandirian lebih tinggi.


Bangun Organisasi dan Kompetensi Secara Bertahap


Perjalanan Ramzy tidak hanya diisi dengan kegiatan akademik. Selama kuliah, ia aktif dalam sejumlah organisasi, di antaranya Omah TI, KOMATIK, HIMAKOM, dan Google Developer Program on Campus UGM.


Baginya, pengalaman berorganisasi menjadi ruang untuk mengembangkan soft skill, memperluas jaringan, sekaligus bertemu dengan praktisi dari berbagai perusahaan.

Ramzy membagi fokus pengembangan dirinya berdasarkan tahapan perkuliahan. Pada tahun-tahun awal, ia lebih banyak membangun pengalaman organisasi, mengikuti kegiatan sukarela, mengembangkan soft skill, dan memperluas jaringan.

Memasuki tahun ketiga dan keempat, fokusnya mulai bergeser pada penguatan kompetensi teknis serta persiapan menuju dunia profesional.


Ketika berada di Inggris, porsi waktu untuk belajar dan mengembangkan kemampuan teknis semakin besar. Ia mengaku menyisihkan sekitar dua hingga tiga jam setiap hari untuk belajar.

“Yang penting konsisten,” tuturnya.


Cara belajar Ramzy pun berubah seiring bertambahnya pengalaman. Jika saat SMA ia masih banyak mengandalkan hafalan, ketika kuliah ia lebih banyak berlatih dan memahami konsep. Sementara di Inggris, sistem self-study membuatnya harus lebih mandiri dalam menentukan pola belajar.


Harus Berkompromi dengan Kehidupan Sosial


Di balik IPK nyaris sempurna, Ramzy mengakui ada sejumlah kompromi yang harus dilakukan. Pada periode tertentu, terutama menjelang ujian atau menghadapi wawancara kerja, ia harus mengurangi aktivitas sosial dan lebih memprioritaskan target yang sedang dikejar.


Ramzy mengaku sebenarnya menyukai aktivitas bersama teman. Namun, ia memahami bahwa pencapaian akademik dan profesional membutuhkan pengaturan prioritas.


“Pasti selalu ada kompromi di sini kalau kita pengen achieve semuanya. Kita sendiri lah itu adalah choice (pilihan),” kata Ramzy.


Baginya, lima tahun perjalanan kuliah bukan sekadar tentang mendapatkan gelar atau meraih IPK tinggi. Pengalaman belajar di dua negara, hidup mandiri, hingga mengenal dunia profesional menjadi pengalaman yang ia sebut sebagai sesuatu yang life changing.


Kini, pengalaman tersebut ingin ia bawa lebih jauh. Ramzy berharap kesempatan belajar dan bekerja di luar negeri dapat menjadi bekal untuk ikut berkontribusi menyelesaikan berbagai persoalan di Indonesia.


Ia menilai Indonesia dapat belajar dari negara lain dalam menghadapi sejumlah persoalan, termasuk keberlanjutan lingkungan, korupsi, dan tata kelola lingkungan.

“Saya berharap pengalaman dan kesempatan yang saya dapatkan di luar negeri bisa saya gunakan untuk memperbaiki gap yang masih ada di Indonesia,” pungkasnya.


Bagi Ramzy, perjalanan pendidikan pada akhirnya bukan hanya tentang pencapaian individu. Lebih dari itu, ilmu dan pengalaman yang diperoleh diharapkan dapat kembali memberi manfaat bagi masyarakat dan Indonesia. (Fzn)


💬 Diskusi Pembaca

0 Komentar

Jadilah yang pertama berdiskusi...