Pedomanjogja.com (Sleman) – Peringatan Tragedi 27 Juli 1996 atau Kudatuli di Kabupaten Sleman dikemas dengan cara berbeda. Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Sleman menghadirkan teatrikal menggunakan media wayang untuk menceritakan kembali rangkaian peristiwa Kudatuli sebagai bagian dari edukasi sejarah kepada generasi muda.
Kegiatan yang digelar dalam rangka peringatan Tragedi 27 Juli tersebut diikuti lebih dari 200 anak muda. Selain menyaksikan pertunjukan teatrikal, peserta juga mengikuti diskusi yang membahas perjalanan demokrasi di Indonesia serta makna Peristiwa 27 Juli 1996.
Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sleman, Danang Maharsa, mengatakan penggunaan wayang dipilih sebagai media penyampaian sejarah agar lebih mudah dipahami generasi muda sekaligus mengangkat pendekatan budaya lokal.
Menurutnya, banyak anak muda mengenal istilah Kudatuli, namun belum memahami latar belakang maupun makna sejarah dari peristiwa tersebut. Karena itu, penyampaian melalui teatrikal dan diskusi diharapkan mampu memberikan gambaran mengenai salah satu tonggak penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia.
"Hari ini kami mengundang lebih dari 200 anak muda untuk mengingat kembali sejarah perjuangan demokrasi Indonesia melalui Tragedi 27 Juli. Kami ingin generasi muda memahami bahwa politik harus berpihak kepada rakyat dan tidak melupakan sejarah bangsa," ujar Danang.
Ia menegaskan kegiatan tersebut bukan mimbar politik, melainkan ruang diskusi agar peserta dapat bertukar pikiran dan memahami konteks sejarah secara lebih utuh.
Danang juga mengingatkan pesan "Jas Merah" atau jangan sekali-kali melupakan sejarah. Menurutnya, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai perjalanan sejarahnya, termasuk memahami berbagai pengorbanan yang pernah terjadi dalam proses demokrasi.
Melalui pertunjukan wayang yang menggambarkan kronologi Kudatuli, peserta diajak merefleksikan bahwa perjuangan demokrasi lahir melalui proses panjang dan penuh pengorbanan. DPC PDI Perjuangan Sleman berharap pendekatan budaya seperti ini dapat menjadi sarana edukasi sejarah yang lebih dekat dengan generasi muda sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap nilai-nilai demokrasi. (Fzn)