PEDOMANJOGJA

Kurangi Ketergantungan Gawai, Festival Dolanan Bocah Suryodiningratan Ajak Anak Kembali Bermain Permainan Tradisional

Redaksi

Redaksi

26 Jul 2026, 14:50 WIB
Kurangi Ketergantungan Gawai, Festival Dolanan Bocah Suryodiningratan Ajak Anak Kembali Bermain Permainan Tradisional
Ratusan anak mulai TK hingga SMP antusias mengikuti Festival Dolanan Bocah, sebuah agenda tahunan yang menghidupkan kembali permainan tradisional di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

Pedomanjogja.com (Yogyakarta) – Suara tawa anak-anak memecah suasana Kelurahan Suryodiningratan, Kota Yogyakarta, Minggu (26/7/2026). Mengenakan busana adat Jawa, sekitar 100 anak dari jenjang TK hingga SMP antusias mengikuti Festival Dolanan Bocah, sebuah agenda tahunan yang menghidupkan kembali permainan tradisional di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.


Festival yang telah memasuki penyelenggaraan keempat ini digelar oleh Kelurahan Budaya Suryodiningratan dengan dukungan empat kampung, yakni Pugeran, Kumendaman, Suryodiningratan, dan Minggiran. Beragam perlombaan digelar, mulai dari gobak sodor, egrang, egrang batok, balap bakiak, hingga pentas tembang dan dolanan tradisional.


Lebih dari sekadar perlombaan, kegiatan ini menjadi ruang bagi anak-anak untuk berinteraksi secara langsung, melatih kemampuan motorik, membangun sportivitas, sekaligus mengenal kembali permainan yang dahulu akrab dengan kehidupan masyarakat.


Ketua Kelurahan Budaya Suryodiningratan, Haryo Damar Teguh, mengatakan Festival Dolanan Bocah telah menjadi agenda budaya tahunan yang bertujuan menjaga warisan budaya sekaligus mengurangi ketergantungan anak terhadap telepon genggam.


"Tujuan kegiatan ini adalah nguri-uri kebudayaan, nguri-uri dolanan tradisional peninggalan leluhur kita, dan mengembalikan anak-anak kepada permainan zaman dulu agar sejenak lepas dari HP." ujar Haryo.


Menurutnya, penggunaan busana adat Jawa juga menjadi bagian penting dalam festival tersebut. Selain memperkenalkan identitas budaya kepada generasi muda, pakaian tradisional dinilai menjadi media sederhana untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya Yogyakarta.


"Tanpa melakukan apa pun, ketika memakai baju adat itu sudah menjadi bentuk syiar kebudayaan," katanya.


Festival ini melibatkan sekitar 100 peserta dari empat kampung di Kelurahan Suryodiningratan. Selain memperebutkan piala bergilir dari kelurahan, para pemenang juga memperoleh uang pembinaan yang didukung melalui anggaran Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK).


Lurah Suryodiningratan, Subiyana, menjelaskan festival tersebut merupakan bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat, khususnya anak-anak, sekaligus pelestarian budaya lokal.


"Festival ini merupakan agenda tahunan untuk memberdayakan masyarakat, khususnya anak-anak. Harapan kami, melalui kegiatan ini anak-anak dapat melestarikan budaya sekaligus sedikit melupakan permainan gawai sehingga memiliki ruang untuk mengenal dolanan tradisional," ujarnya.


Antusiasme peserta juga terlihat dari semangat mereka mengikuti setiap rangkaian kegiatan. Salah satunya, Fariskha Nazawullah Arjuna Putri, siswi kelas VII SMP Negeri 16 Yogyakarta, yang mengikuti lomba teater dolanan anak. Ia mengaku tertarik mengikuti festival karena permainan tradisional kini mulai jarang dimainkan oleh anak-anak seusianya.


"Sekarang sudah cukup jarang anak-anak mengikuti kegiatan seperti ini. Saya ingin mencoba hal baru sekaligus menambah pengalaman," kata Fariskha.


Baginya, bermain bersama teman-teman di arena festival jauh lebih menyenangkan dibanding menghabiskan waktu bermain game di telepon genggam.

"Kalau di sini lebih menarik karena bisa bareng-bareng sama teman. Kalau main game kan lebih sering sendiri," tuturnya.


Melalui Festival Dolanan Bocah, Kelurahan Suryodiningratan berharap permainan tradisional tidak sekadar menjadi bagian dari nostalgia, tetapi tetap hidup dan dikenal oleh generasi muda. Di tengah derasnya arus digitalisasi, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kebersamaan, sportivitas, dan nilai-nilai budaya dapat tumbuh melalui permainan sederhana yang diwariskan dari generasi ke generasi. (Fzn)


💬 Diskusi Pembaca

0 Komentar

Jadilah yang pertama berdiskusi...