PEDOMANJOGJA

Dua Siswa SMPN 1 Turi Ciptakan Alat Pendeteksi Racun dan Makanan Basi untuk Cegah Keracunan MBG

Redaksi

Redaksi

25 Jul 2026, 11:07 WIB
Dua Siswa SMPN 1 Turi Ciptakan Alat Pendeteksi Racun dan Makanan Basi untuk Cegah Keracunan MBG
Dua siswa SMP Negeri 1 Turi, Kabupaten Sleman, menciptakan sebuah inovasi alat "Detektor MBG" untuk mendeteksi racun dan makanan basi yang mampu memberikan hasil hanya dalam waktu sekitar lima detik.

pedomanjogja.com ( Sleman) - Keprihatinan terhadap maraknya pemberitaan dugaan keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendorong dua siswa SMP Negeri 1 Turi, Kabupaten Sleman, menciptakan sebuah inovasi sederhana namun bermanfaat. Mereka merancang alat pendeteksi kesegaran makanan yang mampu memberikan hasil hanya dalam waktu sekitar lima detik.


Kedua siswa tersebut adalah Pradipta Widhi Nugroho dan Abyan Syahlefi, siswa kelas IX B yang aktif dalam ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR). Gagasan itu lahir setelah keduanya melihat berbagai informasi mengenai kasus keracunan makanan yang dikaitkan dengan program MBG di media sosial.


"Awalnya kami melihat beberapa berita tentang keracunan MBG. Lalu kami berdiskusi bagaimana kalau membuat alat yang bisa mendeteksi makanan basi," ujar Abyan saat ditemui di SMPN 1 Turi, Jumat(23/7/2026).


Ide tersebut kemudian mereka konsultasikan kepada guru pembimbing KIR sebelum memulai proses riset. Selama lebih dari lima bulan, keduanya mengembangkan alat mulai dari penyusunan konsep, pengadaan komponen, pemrograman, hingga serangkaian uji coba.


Menurut Abyan, tantangan terbesar bukan pada proses perakitan, melainkan pada pemrograman sistem agar seluruh sensor dapat bekerja secara akurat.


"Merakitnya tidak terlalu sulit, tetapi pemrogramannya cukup rumit. Kami mulai sekitar Maret, sempat mengalami error, kemudian disempurnakan hingga Mei," katanya.


Alat yang mereka beri nama Detektor MBG dibuat menggunakan sebuah wadah makanan berkapasitas satu liter. Pada bagian tutup dipasang berbagai sensor elektronik yang berfungsi mendeteksi kondisi makanan.


Cara kerjanya cukup sederhana. Sampel makanan dimasukkan ke dalam wadah, kemudian ditutup. Dalam waktu sekitar lima detik, layar kecil pada alat akan menampilkan keterangan apakah makanan dinyatakan aman atau tidak untuk dikonsumsi.


Selain itu, alat juga dapat dihubungkan ke telepon seluler melalui jaringan WiFi sehingga pengguna dapat memantau hasil pembacaan sensor secara lebih rinci.


Abyan menjelaskan alat tersebut memanfaatkan tiga sensor utama untuk mendeteksi kelembapan dan kadar alkohol, kualitas udara di dalam wadah makanan, serta suhu makanan. Selain itu, terdapat sensor tambahan yang digunakan untuk mendeteksi kandungan pestisida pada buah.


Meski masih terus dikembangkan, mereka mengklaim alat tersebut menunjukkan hasil yang konsisten selama proses pengujian.


"Kami sudah mencoba berkali-kali. Untuk makanan basi hasilnya bisa langsung terbaca sekitar lima detik. Dari beberapa kali pengujian, hasilnya sesuai," ujarnya.


Guru IPA sekaligus pembimbing KIR SMPN 1 Turi, Anik Marwati, mengatakan alat tersebut telah berulang kali diuji menggunakan menu Makan Bergizi Gratis yang diterima siswa di sekolah.


Pengujian dilakukan terhadap setiap jenis makanan, mulai dari nasi, sayur, hingga lauk pauk. Seluruh sampel diperiksa beberapa kali untuk melihat konsistensi hasil pembacaan alat.


"Selama pengujian, makanan MBG yang diterima sekolah tidak terdeteksi dalam kondisi basi. Alat ini masih terus kami kembangkan sambil digunakan untuk pengujian," jelas Anik.


Inovasi karya Abyan dan Pradipta kini tengah mengikuti Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) tingkat nasional. Proposal penelitian mereka telah lolos tahap pertama dan saat ini bersiap mengikuti tahapan presentasi hasil penelitian.


Bagi kedua pelajar tersebut, alat yang mereka ciptakan bukan sekadar proyek ilmiah, tetapi juga bentuk kepedulian agar makanan MBG yang dikonsumsi masyarakat, khususnya para pelajar, dapat dipastikan kualitasnya. Di usia yang masih belia, mereka menunjukkan bahwa rasa ingin tahu, kepedulian, dan kemauan untuk belajar dapat melahirkan inovasi yang bermanfaat bagi banyak orang.(Fzn)

💬 Diskusi Pembaca

0 Komentar

Jadilah yang pertama berdiskusi...