Pedomanjogja.com, Yogyakarta — Jejaring Gusdurian mendorong penguatan kerukunan beragama dan sikap toleransi di lingkungan sekolah. Upaya ini dinilai penting untuk mencegah perundungan (bullying), kekerasan, serta sikap intoleran di kalangan pelajar.
Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan moderasi beragama yang digelar di SMK BOPKRI 1 Yogyakarta dan berkolaborasi dengan Jejaring Gusdurian. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Pekan Pendidikan Kristen dan kegiatan kokurikuler sekolah.
Dalam kegiatan tersebut, para siswa diajak memahami bahwa perbedaan agama, suku, ras, dan etnis bukanlah alasan untuk saling menjauhi. Sebaliknya, keberagaman diharapkan menjadi kekuatan untuk membangun kebersamaan di lingkungan sekolah.
Hamanda Hafidzu dari Gusdurian Jogja mengatakan, penguatan moderasi beragama penting dilakukan sejak siswa berada di bangku sekolah. Menurutnya, sikap toleran tidak muncul dengan sendirinya, melainkan perlu terus diajarkan dan dibiasakan.
“Moderasi beragama, bagaimana teman-teman ini memahami agama secara toleran, secara plural, ini menjadi wajib,” kata Hamanda.
Hamanda menilai, usia remaja merupakan fase penting dalam pembentukan karakter. Karena itu, nilai toleransi, keberagaman, dan kebaikan dalam beragama perlu terus dibicarakan dan direfleksikan agar menjadi bagian dari kehidupan siswa.
“Dia perlu untuk terus diajarkan, terus direfleksikan, terus untuk dibincangkan, sehingga menjadi budaya dan menjadi karakter yang kuat di anak-anak sekolah,” ujarnya.
Menurut Hamanda, tantangan yang dihadapi pelajar saat ini juga datang dari media sosial. Arus informasi yang begitu cepat membuat siswa dapat menemukan berbagai informasi dan penafsiran atas peristiwa yang terjadi.
Karena itu, nilai-nilai toleransi dan keberagaman diharapkan dapat menjadi pegangan siswa dalam menyikapi berbagai persoalan.
Di sisi lain, Kepala SMK BOPKRI 1 Yogyakarta, Argo Budi Rahayu, mengatakan kegiatan moderasi beragama dilakukan karena lingkungan sekolah memiliki keberagaman, baik dari sisi agama maupun latar belakang suku dan etnis.
“Kegiatan ini penting karena kita tahu bahwa toleransi beragama dan juga tentang perbedaan suku, ras, dan etnis itu sangat dibutuhkan,” kata Argo.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat membentuk siswa yang mampu menghargai satu sama lain. Dengan begitu, perbedaan tidak menjadi pemicu bullying maupun kekerasan di lingkungan sekolah.
“Output yang ingin kami capai adalah anak-anak memiliki toleransi yang tinggi, bisa menghargai satu dengan yang lain sehingga tidak ada bullying, tidak ada kekerasan tentang agama ataupun etnis,” ujarnya.
Argo menambahkan, kegiatan ini diikuti siswa kelas 10, 11, dan sebagian kelas 12. Sebagian siswa kelas 12 tidak dapat mengikuti kegiatan karena sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL).
Melalui kolaborasi antara sekolah dan Gusdurian, penguatan moderasi beragama diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Nilai toleransi dan penghargaan terhadap keberagaman diharapkan tumbuh menjadi karakter siswa, sehingga sekolah dapat menjadi ruang yang aman, inklusif, dan bebas dari bullying serta kekerasan. (Fzn)