PEDOMANJOGJA

UAJY dan Gita Wirjawan Bahas Masa Depan Strategis Asia Tenggara di Tengah Perubahan Global

Redaksi

Redaksi

13 Aug 2026, 19:14 WIB
UAJY dan Gita Wirjawan Bahas Masa Depan Strategis Asia Tenggara di Tengah Perubahan Global
Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) resmi membuka rangkaian Dies Natalis ke-61 dengan menggelar Masterclass & Roundtable Discussion bersama Gita Wirjawan, mantan Menteri Perdagangan RI periode 2011–2014.

pedomanjogja.com (Sleman) – Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) resmi membuka rangkaian Dies Natalis ke-61 dengan menggelar Masterclass & Roundtable Discussion bersama Gita Wirjawan, mantan Menteri Perdagangan RI periode 2011–2014 sekaligus host Endgame Podcast, Kamis (13/8/2026).


Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Lantai 3 Gedung St. Thomas Aquinas UAJY tersebut mengangkat tema besar “Sinergi UAJY Mewujudkan Laudato Si' untuk Semakin Berdampak dan Menjadi Berkat.”

Forum ini membahas masa depan Asia Tenggara di tengah perubahan geopolitik, ekonomi, teknologi, keberlanjutan, serta tata kelola global. Diskusi juga menjadi ruang pertemuan akademisi dan praktisi untuk melihat posisi strategis Asia Tenggara dalam dinamika dunia yang terus berubah.


Rektor UAJY, Dr. G. Sri Nurhartanto, S.H., LL.M., mengatakan momentum Dies Natalis menjadi kesempatan bagi seluruh sivitas akademika untuk kembali menghidupkan nilai-nilai yang diwariskan para pendiri UAJY.


Menurutnya, nilai integritas, keunggulan, inklusivitas, dan humanisme perlu diwujudkan dalam kontribusi nyata bagi masyarakat.


“Menjadi tugas kita semua untuk membumikannya dengan semangat Serviens in Lumine Veritatis — Melayani dalam Cahaya Kebenaran,” ujar Nurhartanto saat membuka kegiatan.


Gita Wirjawan Soroti Posisi Asia Tenggara


Dalam sesi Masterclass, Gita Wirjawan membawakan materi bertajuk “Masa Depan dan Tren Asia Tenggara: Dari Tepi Menuju Inti Kesadaran Global.”

Gita mengawali pemaparannya dengan kisah personal mengenai Yogyakarta yang memiliki arti khusus bagi dirinya dan keluarga. Pembahasan kemudian diarahkan pada sejarah dan perkembangan geopolitik Asia Tenggara.

Ia mengajak peserta melihat perjalanan panjang kawasan tersebut, mulai dari kedatangan Portugis di Malaka pada 1511 hingga dinamika yang berkembang pada era Dinasti Qing.


Menurut Gita, negara-negara Asia Tenggara perlu menjaga keseimbangan hubungan dengan berbagai kekuatan global, termasuk negara-negara Barat dan Tiongkok.

Keseimbangan tersebut dinilai penting agar negara-negara di kawasan memiliki ruang untuk memperkuat kapasitas nasional dan meningkatkan daya saing.


ASEAN Perlu Memperkuat Peran


Diskusi kemudian dilanjutkan melalui sesi roundtable yang menghadirkan enam akademisi dari berbagai bidang.


Rektor UAJY, Nurhartanto, menyoroti tantangan tata kelola pendidikan dan geopolitik kawasan. Ia menilai ASEAN memiliki posisi strategis sebagai salah satu kawasan yang relatif stabil, tetapi masih menghadapi persoalan kesenjangan ekonomi antarnegara anggota.


Ia juga menyoroti belum optimalnya pemanfaatan sumber daya alam untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.

Dalam konteks geopolitik, Nurhartanto membahas dinamika Laut China Selatan serta keberadaan pakta pertahanan AUKUS yang menurutnya dapat menjadi bagian dari perubahan lingkungan strategis kawasan.


Menurutnya, Indonesia dan negara-negara ASEAN membutuhkan strategi hedging yang cerdas dalam menghadapi persaingan kekuatan global.

Di sisi lain, perguruan tinggi dinilai memiliki peran penting dalam menyiapkan sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki kompetensi teknis, tetapi juga memiliki landasan etika.


Guru Besar FISIP Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Prof. Faris Al-Fadhat, S.IP., M.A., Ph.D., menilai Asia Tenggara memiliki posisi geografis dan ekonomi yang strategis, tetapi belum sepenuhnya memiliki pengaruh yang sebanding dalam structural power global.


Ia mendorong evaluasi terhadap institusi politik domestik agar dapat memberikan ruang lebih besar bagi talenta terbaik dalam merumuskan kebijakan publik jangka panjang.


Faris juga menilai ASEAN perlu memperkuat agency. Menurutnya, ASEAN tidak cukup hanya mempertahankan posisi melalui prinsip ASEAN Centrality, tetapi juga perlu memiliki kapasitas lebih besar untuk ikut membentuk tatanan politik global.


Komunikasi Jadi Kunci Keberlanjutan


Guru Besar FISIP UAJY, Prof. Gregoria Arum Yudarwati, S.I.P., M.Mktg.Comm., Ph.D., membahas hubungan antara komunikasi dan isu keberlanjutan.


Menurut Arum, informasi mengenai sains, energi, dan keberlanjutan perlu disampaikan menggunakan bahasa yang mudah dipahami masyarakat.

Ia menjelaskan konsep communication for sustainability yang berfungsi menyampaikan tujuan organisasi serta communication about sustainability untuk menyebarluaskan isu-isu ekologis.


Komunikasi keberlanjutan, lanjutnya, juga perlu memperhatikan kearifan lokal, etnisitas, dan spiritualitas masyarakat agar kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi berkembang menjadi budaya.


Sementara itu, Dosen Fakultas Hukum Universitas Ahmad Dahlan, Dr. Norma Sari, S.H., M.Hum., menyoroti persoalan kedaulatan wilayah dan kedaulatan ekonomi.


Ia menilai masyarakat Indonesia relatif memiliki sensitivitas tinggi terhadap isu kedaulatan wilayah. Namun, kesadaran mengenai kedaulatan ekonomi masih perlu diperkuat.


Menurut Norma, demokratisasi ekonomi seharusnya tidak hanya berbicara tentang perlindungan konsumen, tetapi juga bagaimana masyarakat Indonesia mampu berkembang sebagai produsen barang dan jasa.


Ekonomi dan AI Jadi Tantangan Baru


Pada bidang ekonomi pembangunan, Prof. Aloysius Gunadi Brata, S.E., M.Si., Ph.D., mengulas kembali sejarah kejayaan Nusantara dan Asia Tenggara yang telah dikenal sejak abad ke-13 dan ke-14.


Namun, menurutnya, kawasan masih menghadapi persoalan skala modal dan industri serta perbedaan tingkat pembangunan ekonomi antarnegara ASEAN.


Ia mempertanyakan apakah keterlambatan lompatan ekonomi kawasan berkaitan dengan abundance curse atau justru minimnya creative destruction yang dapat mendorong munculnya inovasi baru.


Aloysius menilai Asia Tenggara membutuhkan kepemimpinan yang kuat untuk mendorong transformasi ekonomi dan meningkatkan daya saing kawasan.


Sementara itu, Prof. Ir. A. Djoko Budiyanto, S.H., M.Si., Ph.D., menyoroti perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau AI.

Menurut Djoko, algoritma digital dan AI dapat memperkuat fenomena echo chamber apabila tidak diimbangi literasi digital dan regulasi yang memadai.


Karena itu, Indonesia dinilai perlu membangun kerangka hukum dan regulasi AI yang jelas. Perguruan tinggi juga didorong memperkuat community of practice serta sistem insentif akademik agar para pakar memiliki ruang lebih luas untuk menyampaikan hasil penelitian kepada masyarakat melalui karya ilmiah populer.


UAJY dan SGPP Indonesia Teken MoU


Selain diskusi, kegiatan tersebut juga menjadi momentum penguatan kerja sama akademik. UAJY dan School of Government and Public Policy (SGPP) Indonesia menandatangani Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU).


Kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi dan kemitraan akademik di tengah berbagai tantangan strategis yang dihadapi Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.


Rangkaian pembukaan Dies Natalis ke-61 UAJY kemudian ditutup dengan penyerahan cenderamata kepada Gita Wirjawan dan para panelis sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi pemikiran mereka.


Kegiatan diakhiri dengan foto bersama yang melibatkan Gita Wirjawan, pimpinan UAJY, para panelis, dan ratusan peserta.

Pembukaan Dies Natalis ke-61 ini sekaligus menjadi momentum bagi UAJY untuk memperkuat kolaborasi lintas disiplin dan mendorong perguruan tinggi agar tidak hanya menjadi ruang pendidikan, tetapi juga pusat pemikiran dalam merespons perubahan global, perkembangan teknologi, dan persoalan keberlanjutan. (Fzn)

💬 Diskusi Pembaca

0 Komentar

Jadilah yang pertama berdiskusi...