PEDOMANJOGJA

Storyteller for the Earth Satukan Pendongeng Indonesia–Inggris, Ajak Publik Peduli Lingkungan Lewat Cerita Rakyat

Redaksi

Redaksi

10 Jul 2026, 12:46 WIB
Storyteller for the Earth Satukan Pendongeng Indonesia–Inggris, Ajak Publik Peduli Lingkungan Lewat Cerita Rakyat
Pertunjukan Storyteller for the Earth: Folktales for the Living Earth, pendongeng dari Indonesia dan Inggris berkolaborasi menghadirkan kisah-kisah yang mengajak publik membangun kembali hubungan harmonis dengan alam di tengah krisis iklim global.

pedomanjogja.com (Bantul) - Cerita rakyat kembali menunjukkan relevansinya dalam menjawab isu-isu masa kini. Melalui pertunjukan Storyteller for the Earth: Folktales for the Living Earth, pendongeng dari Indonesia dan Inggris berkolaborasi menghadirkan kisah-kisah yang mengajak publik membangun kembali hubungan harmonis dengan alam di tengah krisis iklim global.


Pertunjukan yang digelar di Amphitheater Tembi Historical Home, Yogyakarta, pada Sabtu (4/7/2026), berhasil menarik lebih dari 100 penonton. Selama satu jam, audiens diajak memasuki ruang imajinasi yang memadukan cerita rakyat, musik etnik, dan Wayang Suket dalam sebuah pengalaman yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak berefleksi.


Salah seorang penonton, Arif Rahmanto, mengaku terkesan dengan pertunjukan tersebut. "Performance yang sangat inspiratif dan luar biasa. Membuat saya sejenak tamasya ke alam imajinasi yang bermakna. Satu jam tak terasa," ujarnya usai acara.


Proyek Storyteller for the Earth: Folktales for the Living Earth merupakan kolaborasi seni lintas budaya yang mempertemukan Rona Mentari, pendongeng sekaligus pendiri Rumah Dongeng Mentari dari Indonesia, dengan Roi Galor, storyteller internasional sekaligus salah satu pendiri International School of Storytelling dari Inggris.


Kolaborasi ini terwujud berkat dukungan hibah Connections Through Culture 2025 dari British Council, program internasional yang mendorong kerja sama kreatif antara seniman dan organisasi budaya di Inggris serta kawasan Asia-Pasifik.


Sebelum tampil di hadapan publik, kedua pendongeng menjalani proses kreatif yang meliputi riset, diskusi lintas budaya, hingga residensi artistik di Yogyakarta. Melalui proses tersebut, mereka merangkai cerita-cerita rakyat dari kedua negara menjadi narasi yang mengajak audiens merenungkan kembali relasi manusia dengan bumi.


Rona Mentari mengatakan, pertunjukan ini diharapkan tidak berhenti sebagai hiburan semata. Menurutnya, cerita rakyat memiliki bahasa yang universal untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan.


"Melalui pertunjukan mendongeng lintas budaya ini, kami berupaya menyuarakan respons terhadap krisis iklim global. Semoga bahasa universal dari cerita rakyat ini dapat menyentuh hati banyak orang dan menjadi pemantik bagi lahirnya gerakan kolektif dalam menjaga bumi," kata Rona.


Mengusung tema "Folktales for the Living Earth", proyek ini menawarkan pendekatan yang berbeda dalam membahas persoalan lingkungan. Alih-alih hanya mengandalkan data statistik dan fakta ilmiah, pertunjukan ini memanfaatkan kekuatan cerita rakyat untuk menggugah sisi emosional, memperkenalkan nilai budaya, serta menghidupkan kembali kebijaksanaan ekologis yang telah diwariskan selama berabad-abad.


Selain menikmati pertunjukan mendongeng yang diperkaya dengan Wayang Suket dan musik etnik secara langsung, para peserta juga mengikuti sesi dialog interaktif yang membuka ruang diskusi mengenai hubungan manusia dengan alam dan tantangan lingkungan yang dihadapi saat ini.


Bagi masyarakat yang tidak sempat menyaksikan pertunjukan secara langsung di Yogyakarta, seluruh rangkaian acara telah didokumentasikan dan akan ditayangkan secara daring melalui situs resmi proyek www.storytellerfortheearth.com, sehingga dapat diakses oleh penonton dari dalam maupun luar negeri.


Melalui Storyteller for the Earth, Rumah Dongeng Mentari berharap dapat terus menghadirkan ruang perjumpaan antara budaya, seni pertunjukan, dan kepedulian terhadap lingkungan. Proyek ini sekaligus menegaskan bahwa cerita rakyat bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan sumber nilai yang tetap relevan untuk membantu masyarakat memahami dan merespons tantangan zaman, termasuk krisis iklim yang dihadapi dunia saat ini. (Hyu)

Topik Terkait: #Jogja #Viral

💬 Diskusi Pembaca

0 Komentar

Jadilah yang pertama berdiskusi...