Pedomanjogja.com (Sleman) - Pemerintah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, memperkuat ekosistem industri film, animasi, dan video sebagai salah satu pilar pengembangan ekonomi kreatif. Upaya tersebut diarahkan untuk menciptakan lapangan kerja, meningkatkan daya saing daerah, sekaligus membuka peluang investasi di sektor kreatif.
Penguatan ekosistem perfilman ini sejalan dengan langkah Sleman mengikuti proses seleksi UNESCO Creative Cities Network (UCCN) bidang Film. Sleman sebelumnya telah ditetapkan sebagai Kabupaten/Kota Kreatif Subsektor Film, Animasi, dan Video pada 2023 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor 102/DI/0100/MK/2023.
Bupati Sleman Harda Kiswaya mengatakan, Sleman memiliki modal dasar yang kuat untuk mengembangkan industri film dan sektor kreatif lainnya.
Menurutnya, pengembangan industri tersebut tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan karya, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
“Kami optimistis industri film, animasi, dan video tidak hanya menjadi karya, tetapi juga memberikan manfaat nyata untuk menggerakkan perekonomian serta mengurangi angka pengangguran terdidik,” kata Harda di Sleman, Jumat (21/8/2026).
Harda menyebut tingkat pengangguran terbuka di Sleman yang berada di kisaran lima persen menjadi salah satu tantangan yang ingin dijawab melalui optimalisasi sektor ekonomi kreatif.
Untuk memperkuat sumber daya manusia, Pemkab Sleman telah mengalokasikan anggaran lebih dari Rp13 miliar melalui program Sleman Pintar periode 2022–2025. Program tersebut menyasar hampir 500 lulusan SMA/SMK, terutama dari keluarga kurang mampu, untuk mendapatkan pendidikan dan pelatihan di bidang perfilman, animasi, dan video.
“Kami ingin anak-anak Sleman tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pencipta, animator, dan pelaku industri kreatif yang mandiri,” ujar Harda.
Selain pengembangan SDM, pemerintah daerah juga memperkuat infrastruktur pendukung. Sejumlah fasilitas yang dioptimalkan antara lain Studio Alam Gamplong, Sleman Creative Space di Taman Kuliner Caturtunggal, serta Taman Budaya Sleman.
Pemkab Sleman juga mewacanakan pembentukan Komisi Film Daerah (Regional Film Commission). Lembaga tersebut diharapkan dapat membantu menciptakan iklim yang lebih kondusif bagi investasi dan kegiatan produksi film di Sleman.
Potensi Sleman sebagai lokasi produksi film juga telah terbukti. Sejumlah film layar lebar nasional menggunakan kawasan Sleman sebagai lokasi pengambilan gambar, di antaranya Bumi Manusia, Ada Apa dengan Cinta? 2, dan KKN di Desa Penari.
Sleman juga menjadi bagian dari ekosistem perfilman Yogyakarta melalui penyelenggaraan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF).
Memiliki Ekosistem Perfilman yang Lengkap
Kepala Dinas Pariwisata Sleman Edy Winarya mengatakan, kekuatan Sleman tidak hanya terletak pada lokasi produksi, tetapi juga pada keberadaan berbagai unsur pendukung industri kreatif.
“Modal dasar Sleman sangat lengkap, mulai dari studio animasi, komunitas film, lembaga pelatihan, tempat produksi, hingga keberadaan perguruan tinggi dan SMK yang membidangi sinematografi dan animasi,” kata Edy.
Sekretaris Daerah Sleman Abu Bakar menambahkan, potensi fisik dan nonfisik yang dimiliki Sleman cukup besar untuk mendukung iklim produksi sinema.
Saat ini, Sleman tercatat memiliki 16 komunitas film, lebih dari sembilan studio animasi terdaftar, 24 lokasi produksi film, lima gedung bioskop, dan tiga stasiun televisi lokal.
Di luar data tersebut, terdapat pula pekerja kreatif lepas yang bergerak di bidang animasi dan video, terutama di kawasan pusat pendidikan seperti Depok dan Condongcatur.
Kondisi tersebut dinilai membuka peluang bagi Sleman untuk meningkatkan posisi di tingkat internasional. Masuknya proyek produksi film dan animasi berskala besar juga berpotensi memberikan dampak ekonomi terhadap daerah.
Dorong Kolaborasi Akademisi dan Industri
Rektor Universitas AMIKOM Yogyakarta Prof. Dr. Mohammad Suyanto mengatakan, kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri di Sleman telah menunjukkan kontribusi terhadap perkembangan ekonomi kreatif.
Ia menyebut pengembangan subsektor film dan animasi telah membuka peluang investasi serta mendorong pertumbuhan ekonomi.
Menurut Suyanto, produksi film Ajisaka dengan nilai proyek yang disebut mencapai 15 hingga 30 juta dolar AS menjadi salah satu contoh potensi ekonomi industri kreatif yang berkembang di Sleman. Ia juga menyebut adanya investasi film Hollywood Golden Snail dengan nilai yang disebut berada pada kisaran 15 hingga 30 juta dolar AS.
Suyanto menilai perkembangan tersebut menunjukkan bahwa ekosistem perfilman di Sleman memiliki peluang untuk bersaing di tingkat global sekaligus memberikan kontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD) dan produk domestik regional bruto (PDRB).
Dengan berbagai potensi tersebut, Pemkab Sleman bersama para pemangku kepentingan berkomitmen memperluas ruang kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, komunitas, akademisi, serta lembaga pendidikan.
Langkah tersebut diharapkan semakin memperkuat posisi Sleman sebagai daerah yang ramah bagi produksi film, memiliki sumber daya kreatif yang kompetitif, dan mampu berkembang sebagai salah satu destinasi industri perfilman di tingkat internasional. (Fzn)