Pedomanjogja.com (Sleman) - Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Sleman terus memperkuat pembinaan atlet untuk mempertahankan prestasi sebagai salah satu lumbung olahraga di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dengan tema “Kolaborasi dan Prestasi”, KONI Sleman saat ini mengelola, membina, dan mengoordinasikan 53 cabang olahraga binaan. Target berikutnya adalah mempertahankan gelar juara umum pada Porda DIY XVIII tahun 2027 di Kulon Progo.
Target tersebut sekaligus menjadi upaya Sleman meraih gelar juara umum untuk kelima kalinya secara berturut-turut. Sebelumnya, Sleman berhasil menjadi juara umum Porda DIY 2025. Gelar tersebut menjadi juara umum keempat secara beruntun, dengan perolehan 170 medali emas, 178 perak, dan 203 perunggu, atau total 551 medali. Ketua KONI Sleman, Haris Sutarto, S.E., mengatakan capaian tersebut merupakan hasil dari proses pembinaan yang dilakukan secara konsisten dan melibatkan banyak pihak.
“Prestasi itu tidak datang secara instan. Ada proses panjang, mulai dari pembinaan atlet, peningkatan kualitas pelatih, kompetisi, sampai dukungan dari berbagai pihak. Karena itu, kolaborasi menjadi bagian penting untuk mempertahankan prestasi Sleman,” ujar Haris.
Enam Pilar Pembinaan
KONI Sleman turut mendorong kompetisi berjenjang sejak usia dini, termasuk melalui kompetisi kelompok umur. Pendekatan ilmiah diterapkan dengan memperhatikan kebutuhan gizi atlet, model latihan yang terukur, serta evaluasi secara berkelanjutan.
Haris mengatakan pola pembinaan tersebut perlu dilakukan secara konsisten agar regenerasi atlet tetap berjalan.
“Kami ingin pembinaan tidak hanya berorientasi pada hasil saat ini, tetapi juga menyiapkan atlet untuk jangka panjang. Regenerasi harus berjalan dan bibit-bibit baru harus terus ditemukan,” katanya.
Puslatkab Siapkan 1.265 Atlet
Salah satu program unggulan pembinaan adalah Pusat Pelatihan Kabupaten (Puslatkab). Program ini disiapkan untuk membina atlet dari berbagai cabang olahraga dalam menghadapi Porda DIY maupun event nasional resmi dari masing-masing induk organisasi olahraga.
Puslatkab 2026–2027 diikuti 1.399 peserta, terdiri dari 1.265 atlet dan 134 pelatih dari 50 cabang olahraga. Program tersebut berlangsung selama 14 bulan, mulai Juli 2026 hingga Agustus 2027. Atlet yang mengikuti Puslatkab merupakan hasil seleksi dari berbagai kejuaraan, antara lain Kejurkab, Porkab, dan event lain yang digelar sebelum pelaksanaan Puslatkab.
Menurut Haris, pembinaan yang terukur diperlukan untuk memastikan atlet yang dipersiapkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masing-masing cabang olahraga.
“Kami berusaha membangun sistem pembinaan yang terukur. Atlet tidak hanya dilatih, tetapi juga dipantau perkembangannya melalui evaluasi dan program yang disesuaikan dengan kebutuhan cabang olahraga,” jelasnya.
Jaring Bibit Atlet dari Desa
Pembinaan tidak hanya dilakukan di tingkat kabupaten. KONI Sleman juga memperkuat peran Koordinator Olahraga Kapanewon (Korkap). Korkap periode 2026–2029 diarahkan menjadi penggerak di tingkat akar rumput untuk menjaring bibit-bibit atlet. Tugasnya meliputi pendataan dan pembinaan awal sebelum atlet diserahkan kepada cabang olahraga untuk dikembangkan ke level provinsi, nasional, hingga internasional. Haris menilai penjaringan atlet dari tingkat kapanewon penting untuk memperkuat regenerasi.
“Potensi atlet tidak hanya berada di pusat kabupaten. Banyak anak berbakat yang muncul dari desa dan kapanewon.
Tugas kita adalah menemukan, membina, kemudian memberikan jalur yang tepat agar mereka bisa berkembang,” ujar Haris.
Perlindungan dan Apresiasi Atlet
Dalam pembinaan, KONI Sleman juga menyiapkan sistem perlindungan bagi atlet, pelatih, dan ofisial melalui BPJS Ketenagakerjaan. Apresiasi terhadap prestasi atlet juga diberikan. Pemerintah daerah memberikan tali asih bagi peraih medali Porda. Sementara itu, kapanewon dapat memberikan uang pembinaan dan insentif bagi peraih medali Porkab 2026. Dari sisi tata kelola, KONI Sleman menekankan organisasi yang tertib melalui pelaksanaan rapat kerja tahunan dan evaluasi bulanan.
Tantangan Menuju Porda 2027
Meski memiliki catatan prestasi kuat, KONI Sleman masih menghadapi sejumlah tantangan. Peningkatan pendanaan serta sarana dan prasarana menjadi hal yang perlu terus diperkuat. Selain itu, fungsi pengendalian dan pengukuran kinerja perlu ditingkatkan. Sinergi antarpemangku kepentingan, inovasi, tata kelola yang transparan dan akuntabel, serta pemanfaatan teknologi juga menjadi bagian dari arah kebijakan ke depan.
Haris menegaskan, mempertahankan gelar juara umum untuk kelima kalinya bukan pekerjaan mudah. Namun, target tersebut tetap menjadi motivasi bagi seluruh unsur olahraga di Sleman.
“Target juara umum kelima tentu bukan sesuatu yang ringan. Tetapi kami optimistis dengan kerja bersama, pembinaan yang berjenjang, evaluasi yang konsisten, dan dukungan semua pihak, target itu bisa kami perjuangkan,” tegas Haris.
Pada Porda XVII, Sleman menurunkan 1.061 atlet dan menjadi kontingen terbesar sepanjang sejarah keikutsertaan Sleman dalam ajang tersebut.
Kini, dengan Puslatkab 2026–2027 yang telah berjalan dan penguatan pembinaan hingga tingkat kapanewon, Sleman mulai menyiapkan kekuatan menuju Porda DIY XVIII tahun 2027 di Kulon Progo. Bagi KONI Sleman, mempertahankan prestasi bukan sekadar mengejar medali. Konsistensi, kolaborasi, data, dan pembinaan berjenjang menjadi fondasi untuk menjaga tradisi juara sekaligus menyiapkan generasi atlet berikutnya. (Fzn)