Pedomanjogja.com (Yogyakarta) – Pencak silat tidak hanya tentang kemampuan bela diri. Di balik gerakan dan jurusnya, terdapat nilai persaudaraan, etika, budi pekerti, hingga filosofi kehidupan yang menjadi bagian dari kearifan budaya Nusantara.
Nilai-nilai tersebut kembali diangkat Komunitas Paseduluran Angkringan Silat (PAS) Yogyakarta melalui Pencak Wisata Budaya (PWB) ke-5 yang digelar selama tiga hari, 27–29 Agustus 2026.
Kegiatan ini dipusatkan di sejumlah lokasi di Kota Yogyakarta, GIK/Gelanggang Inovasi dan Kreativitas UGM, serta Desa Turi, Sleman. PWB 5 melibatkan berbagai kalangan, mulai dari praktisi pencak silat, anak-anak, masyarakat umum, akademisi, hingga mahasiswa asing.
PWB 5 dirancang bukan sekadar sebagai pertunjukan pencak silat, tetapi juga menjadi ruang edukasi, pelestarian budaya, penguatan pariwisata berbasis budaya, dan diplomasi budaya Indonesia kepada masyarakat internasional.
Kepala Dinas Kebudayaan atau Kundha Kabudayan DIY, Dian Lakhsmi Pratiwi, mengatakan penguatan kembali nilai filosofis pencak silat penting dilakukan di tengah perkembangan zaman.
Menurutnya, modernisasi membuat pencak silat terkadang hanya dipandang sebagai olahraga atau kemampuan bela diri. Padahal, tradisi tersebut memiliki nilai kehidupan yang jauh lebih luas.
“Pencak silat adalah cermin jati diri Nusantara. Di dalamnya terkandung falsafah hidup, budi pekerti luhur, rasa hormat kepada sesama, keberanian membela kebenaran, serta keharmonisan antara manusia, alam dan Sang Pencipta,” ungkap Dian dalam konferensi pers, Rabu (26/8/2026).
Nilai tersebut semakin penting untuk dijaga setelah UNESCO menetapkan tradisi pencak silat sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan pada 12 Desember 2019. Dian menyebut PWB 5 menjadi salah satu rangkaian dalam perayaan Bulan Warisan Dunia 2026 di Yogyakarta.
Libatkan Mahasiswa Asing
Salah satu agenda yang menjadi perhatian dalam PWB 5 adalah keterlibatan mahasiswa asing melalui Kantor Urusan Internasional (KUI) UGM dan International Students Association at Gadjah Mada (ISAGAMA).
Para mahasiswa asing akan mengikuti workshop pencak silat sekaligus camp budaya di Desa Turi. Mereka tidak hanya diperkenalkan dengan pencak silat, tetapi juga berbagai tradisi Yogyakarta.
Rangkaian tersebut meliputi pengenalan gamelan, teknik membatik, iket atau udheng, hingga pembuatan keris yang melibatkan empu dari lingkungan Kesultanan Yogyakarta.
Keterlibatan mahasiswa mancanegara diharapkan menjadi bagian dari diplomasi budaya, sehingga mereka dapat mengenal secara langsung nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi pencak silat dan kebudayaan Yogyakarta.
“Ini satu-satunya acara yang bisa menyatukan pegiat pencak silat dari berbagai penjuru Nusantara dan bahkan luar negeri. Ini tahun kelima dan akan terus spesial,” kata Dian.
Sasar Regenerasi Sejak Dini
PWB 5 juga memberikan ruang cukup besar bagi generasi muda. Salah satunya melalui Lomba Koreografi Pencak Anak untuk peserta usia 5–13 tahun yang memperebutkan Piala Sri Paduka KGPAA Paku Alam X.
Selain itu, terdapat lomba mewarnai bertema pencak silat yang ditujukan bagi anak usia PAUD, TK, dan SD.
Kegiatan tersebut menjadi sarana untuk mengenalkan pencak silat sejak usia dini melalui pendekatan seni, kreativitas, dan aktivitas yang menyenangkan. Rangkaian PWB 5 juga diisi sarasehan bertajuk “Pencak Silat Tradisional di Persimpangan Zaman”, yang akan di gelar di GIK UGM serta bazar pencak silat, dan workshop untuk mahasiswa asing.
Seluruh rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan Pagelaran Puncak Sabetan Mencak di Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Acara ini menghadirkan koreografi silat kolosal serta demonstrasi dari berbagai perguruan pencak silat tradisional. Penyelenggara PWB 5 dari komunitas PAS Yogyakarta, Suryadi, mengatakan gelaran tahun ini menghadirkan sejumlah narasumber dan praktisi dari dalam maupun luar negeri.
“Banyak narasumber menarik yang hadir seperti pesilat dari Colorado, Amerika Serikat, lalu ada pesilat yang melanglangbuana ke berbagai penjuru dunia juga profesor dari UGM. Ini menjadi hal menarik dan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya,” ujar Suryadi.
Menurutnya, keberagaman peserta dan pengisi acara menjadi salah satu kekuatan PWB 5 dalam mempertemukan pencak silat tradisional dengan masyarakat internasional.
Panitia PWB 5, Yosi Tangtungan mengungkapkan jika PAS Yogyakarta menggandeng Dinas Kebudayaan DIY melalui dukungan Dana Keistimewaan serta UGM sebagai mitra akademis. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat pelestarian budaya sekaligus membuka ruang pengembangan ekonomi kreatif dan pariwisata berbasis budaya.
“Kami mengundang masyarakat, pemerhati budaya, serta masyarakat luas untuk hadir dan menjadi bagian dari perayaan kebudayaan ini. Mari bersama kita gaungkan bahwa Pencak Silat adalah kebanggaan Indonesia untuk dunia,” tandas Yosi. (fzn)