pedomanjogja.com (Gunungkidul) – Bagi warga Padukuhan Kemesu, Kalurahan Semugih, Kapanewon Rongkop, Gunungkidul, air bukan sekadar kebutuhan sehari-hari. Saat kemarau panjang datang, air menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan.
Sejak April hingga kini, sumur dan telaga yang selama ini menjadi sumber air warga mengering. Dua RT dengan 67 kepala keluarga di Padukuhan Kemesu pun harus mencari cara agar kebutuhan air untuk memasak, minum, dan keperluan sehari-hari tetap terpenuhi.
Sebagian warga memilih membeli air tangki. Namun, bagi keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas, membeli air bukan perkara mudah.
Setiap tangki berkapasitas 6.000 liter harus ditebus dengan harga sekitar Rp120.000 dan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar tiga minggu.
Kondisi tersebut sedikit teringankan pada Senin (10/8/2026), ketika Waroeng Spesial Sambal (SS) Indonesia menyalurkan bantuan air bersih dalam rangka memperingati HUT ke-24.
Sebanyak delapan tangki air bersih dikirim ke Padukuhan Kemesu. Dengan kapasitas masing-masing 6.000 liter, total bantuan yang diterima warga mencapai 48.000 liter air bersih.
Koordinator distribusi program air bersih Waroeng SS, Muhammad Ivan Kurniawan, mengatakan bantuan tersebut merupakan bagian dari program sosial bertajuk "240 Tangki Air untuk Masyarakat".
Program yang awalnya ditargetkan menyalurkan 240 tangki air bersih itu kemudian ditambah menjadi 278 tangki karena tingginya kebutuhan masyarakat.
Distribusi dilakukan secara bertahap di tujuh wilayah, yakni Jabodetabek, Semarang, Purwokerto, Yogyakarta, Solo, Malang, dan Bali.
"Jadi, total air bersih yang didistribusikan di Kemesu mencapai 48.000 liter," ujar Ivan.
Menurut Ivan, penyaluran tahap pertama telah dilakukan di Yogyakarta dan Purwokerto dengan total 111 tangki. Selanjutnya, tahap kedua sebanyak 167 tangki disalurkan ke Jabodetabek, Semarang, Solo, Malang, dan Bali.
Dalam pelaksanaannya, Waroeng SS berkolaborasi dengan sejumlah lembaga kemanusiaan, di antaranya Asar Humanity dan Baitulmaal Muamalat (BMM).
Untuk wilayah DIY, bantuan air bersih sebelumnya juga telah disalurkan ke sejumlah daerah, termasuk Girisubo, Panggang, dan Kabupaten Kulonprogo.
Bertahan di Tengah Kemarau
Bagi warga Kemesu, bantuan air bersih tersebut bukan sekadar bantuan sesaat. Air yang datang berarti ada kebutuhan dasar yang bisa dipenuhi tanpa harus kembali mengeluarkan uang untuk membeli air.
Dukuh Kemesu, Sugiyanta, mengatakan warga di wilayahnya memang hampir setiap tahun menghadapi persoalan kekurangan air ketika musim kemarau.
"Setiap tahun warga kami memang mengalami krisis air bersih, terutama dari bulan April sampai sekarang karena tidak ada air hujan dan telaga sudah kering," kata Sugiyanta.
Selama kondisi tersebut berlangsung, warga harus mengandalkan air tangki yang dibeli secara mandiri.
Bagi sebagian warga, biaya tersebut cukup membebani pengeluaran rumah tangga. Apalagi air yang dibeli harus digunakan secara hemat agar dapat bertahan hingga beberapa minggu.
Bagi Wartiyem (64), seorang petani warga setempat, persoalan air bahkan berkaitan langsung dengan kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Air bantuan yang datang dimanfaatkannya untuk kebutuhan paling mendasar, seperti memasak dan minum.
"Air dari bantuan ini sangat berarti untuk masak dan minum," ujar Wartiyem.
Ia menuturkan, ketika air menipis sementara uang untuk membeli air tidak tersedia, warga harus mencari cara lain. Tak jarang, hasil bumi maupun hewan ternak dan perhiasan menjadi pilihan untuk dijual demi mendapatkan uang guna membeli air.
"Kalau tidak ada air dan tidak punya uang, kami terpaksa harus menjual hasil bumi seperti gaplek atau ternak ayam dan kambing untuk bisa membeli air bersih," katanya.
Di tengah kemarau yang belum berakhir, puluhan ribu liter air yang tiba di Kemesu setidaknya memberi ruang bernapas bagi warga. Untuk sementara, mereka tidak perlu mengkhawatirkan dari mana mendapatkan air untuk memasak dan minum.
Namun, bagi warga Kemesu, cerita tentang krisis air belum benar-benar selesai. Selama hujan belum kembali dan sumber air belum terisi, perjuangan mendapatkan air bersih masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. (Fzn)