pedomanjogja.com (Sleman) - Malam itu suasana di Padukuhan Kasuran, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Sleman, terasa berbeda. Ratusan warga berkumpul di sekitar lokasi rumah yang selama hampir tiga pekan terakhir menjadi pusat perhatian akibat kemunculan api misterius yang belum diketahui penyebab pastinya.
Di tengah kegelisahan yang masih menyelimuti, keluarga Agus Yani dan Mutfiana, pemilik rumah yang terdampak langsung, menggelar doa bersama pada Kamis (11/6/2026) malam. Kegiatan tersebut menjadi ikhtiar spiritual sekaligus ruang kebersamaan bagi warga yang selama ini ikut merasakan kecemasan akibat peristiwa tersebut.
Doa bersama digelar untuk memohon kelancaran proses penelitian yang saat ini masih dilakukan oleh para ahli. Selain itu, kegiatan tersebut juga dimanfaatkan sebagai sarana sosialisasi kepada masyarakat mengenai perkembangan penanganan kasus yang hingga kini masih dalam tahap penyelidikan ilmiah.
Mutfiana, penghuni rumah yang menjadi lokasi utama kemunculan api, mengatakan keluarga memilih menempuh berbagai cara untuk mencari solusi, baik melalui pendekatan ilmiah maupun doa.
"Kita mau ikhtiar lewat ilmiah, lewat religi juga. Kita sama-sama berusaha. Tidak ada salahnya kalau kita doa bersama. Yang diundang warga, relawan, tetangga, dan masyarakat sekitar sini," ujarnya.
Menurut Mutfiana, hingga saat ini para peneliti masih membutuhkan waktu untuk menyimpulkan penyebab pasti fenomena tersebut. Selama 20 hari terakhir, api disebut telah muncul berulang kali di berbagai titik dalam rumah.
"Harapannya segera selesai dan segera berakhir apinya," katanya.
Hingga kini, penelitian masih terus dilakukan oleh tim dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta (UPNVY). Berbagai kajian lapangan, pengambilan sampel, hingga pemetaan kondisi bawah permukaan masih berlangsung untuk mengungkap sumber kemunculan api.
Kepala Dukuh Kasuran, Suparman, menjelaskan bahwa sosialisasi kepada warga menjadi penting agar masyarakat tidak terjebak pada informasi yang belum tentu benar. Menurutnya, munculnya alat berat dan aktivitas penelitian dalam beberapa hari terakhir sempat memunculkan kekhawatiran di tengah warga.
"Warga sempat was-was karena mendengar ada gas, ada retakan tanah, dan sebagainya. Karena itu perlu ada penjelasan supaya masyarakat tidak bingung dan bisa memahami perkembangan penelitian yang sedang dilakukan," ujarnya.
Meski demikian, rasa khawatir masih dirasakan sebagian warga. Terlebih, api tidak hanya muncul di rumah utama, tetapi juga sempat merembet dan membakar sejumlah barang milik warga lain di sekitar lokasi.
Laila Putri Rahmadini, salah seorang warga, mengaku kini lebih berhati-hati saat meninggalkan barang-barang yang mudah terbakar.
"Takut kalau apinya menyebar. Jadi lebih waspada. Kemarin ada kerudung yang terbakar di jemuran. Harapannya semoga segera selesai supaya semuanya aman," katanya.
Peristiwa yang oleh warga disebut sebagai "teror api misterius" ini pertama kali terjadi pada Jumat, 22 Mei 2026. Sejak saat itu, kemunculan api berlangsung berulang di sejumlah titik dan menyambar berbagai benda yang mudah terbakar.
Berdasarkan catatan keluarga, hingga Kamis malam jumlah kemunculan api telah mencapai 125 kali dalam rentang 20 hari. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, peristiwa tersebut telah memicu keresahan warga dan mengubah aktivitas sehari-hari masyarakat sekitar.
Di tengah ketidakpastian yang masih berlangsung, doa bersama menjadi simbol harapan warga Kasuran. Mereka berharap penelitian yang dilakukan para ahli segera menemukan jawaban, sehingga rasa aman dapat kembali hadir dan kehidupan masyarakat bisa berjalan normal seperti sediakala. (Hrd)