PEDOMANJOGJA

Perkuat Ketahanan Pangan dan Ekonomi Desa, Pertamina Gelar Panen Raya Nangka di Hutan Wanaboga Gunungkidul

Redaksi

Redaksi

05 Oct 2026, 08:26 WIB
Perkuat Ketahanan Pangan dan Ekonomi Desa, Pertamina Gelar Panen Raya Nangka di Hutan Wanaboga Gunungkidul
Program Hutan Lestari Wanaboga Nangka yang digagas Pertamina, pohon nangka dikembangkan sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat desa. Sabtu (03/10/2026)

Pedomanjogja.com (GUNUNGKIDUL) - Hamparan hutan di Petak 58 RPH Candi, BDH Karangmojo, Kalurahan Jatiayu, Kapanewon Karangmojo, Gunungkidul, kini tak hanya berfungsi sebagai kawasan hijau. Di kawasan seluas 87 hektare tersebut, pohon nangka dikembangkan sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat desa.


Upaya itu diwujudkan melalui program Hutan Lestari Wanaboga Nangka yang digagas Pertamina melalui Pertamina Foundation bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY.


Program tersebut ditandai dengan panen raya sekaligus penanaman lanjutan pohon nangka pada Sabtu (3/10/2026). Pengembangan kawasan ini diarahkan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku nangka muda atau gori bagi industri kuliner gudeg di Yogyakarta.


Kebutuhan nangka muda untuk industri gudeg di Yogyakarta diperkirakan mencapai sekitar sembilan ton per hari. Sementara itu, produksi lokal dari wilayah DIY baru mampu memenuhi sekitar dua ton per hari.

Artinya, masih terdapat kekurangan sekitar tujuh ton per hari yang selama ini harus dipenuhi dari luar daerah. Kondisi tersebut menjadi peluang sekaligus tantangan untuk mengembangkan sumber bahan baku nangka dari kawasan hutan di Gunungkidul.


Komisaris PT Pertamina (Persero), Nanik S. Deyang, mengatakan keterlibatan Pertamina melalui program yang dilaksanakan Pertamina Foundation merupakan bentuk kepedulian dunia usaha dalam mendukung ketahanan pangan nasional, selain menjaga ketahanan energi.


“Pemanfaatan lahan di Gunungkidul ini adalah bagian nyata dari program ketahanan pangan,” ujar Nanik di sela-sela kegiatan panen dan penanaman pohon nangka bersama warga.


Libatkan Ratusan Petani


Pengembangan Hutan Lestari Wanaboga Nangka mendapat dukungan Pemerintah Daerah DIY serta arahan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam pemanfaatan kawasan hutan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pengelolaan kawasan tersebut melibatkan Kelompok Tani Hutan Lestari Wanaboga Nangka yang beranggotakan sekitar 400 petani lokal.


Perwakilan kelompok tani, Ngatimin, mengatakan masyarakat telah merasakan manfaat dari program tersebut. Menurutnya, kelompok tani telah melakukan sedikitnya tiga kali panen.


Ia berharap pendampingan, terutama dalam peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dapat terus dilakukan sehingga hasil kebun tidak hanya dijual sebagai bahan baku, tetapi juga dikembangkan menjadi berbagai produk turunan yang memiliki nilai tambah.


Sementara itu, Corporate Secretary PT Pertamina (Persero), Arya Dwi Paramita, menegaskan komitmen Pertamina agar program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) memberikan dampak yang nyata dan berkelanjutan.


“Pertamina berkomitmen melalui kolaborasi Hutan Lestari Wanaboga Nangka ini, kami ingin memastikan adanya transparansi dampak sosial-ekonomi yang tercipta, mulai dari kedaulatan pangan, kemandirian ekonomi petani, hingga pelestarian ekosistem lingkungan secara konsisten,” ungkap Arya.


Hadapi Tantangan Lahan Karst


Pengembangan tanaman nangka di Gunungkidul juga menghadapi tantangan karakteristik lahan karst yang cenderung kering ketika memasuki musim kemarau.

Untuk menjaga keberlanjutan pertanian, program Hutan Lestari Wanaboga Nangka dikembangkan dengan sistem tumpangsari serta dukungan pengairan berbasis energi bersih.


Konsep tersebut diharapkan membuat kawasan hutan tidak hanya menghasilkan nangka sebagai bahan baku pangan, tetapi juga menjadi ruang pengembangan berbagai aktivitas ekonomi masyarakat.


Dalam jangka panjang, kawasan tersebut diarahkan berkembang menjadi lumbung pangan sekaligus sumber bahan baku industri kuliner. Kawasan ini juga diproyeksikan untuk dikembangkan sebagai kawasan eduwisata.


President Director Pertamina Foundation, Agus Mashud S. Asngari, mengatakan keberhasilan pengelolaan hutan tidak seharusnya hanya dilihat dari kegiatan seremonial seperti penanaman atau panen.

Menurutnya, ukuran keberhasilan justru terlihat dari seberapa besar manfaat program yang masih dirasakan masyarakat dan lingkungan dalam jangka panjang.


“Melalui Wanaboga Nangka, kita membuktikan bahwa ketika pemerintah, akademisi, masyarakat, dan dunia usaha bergandengan tangan, hutan tidak hanya lestari, tetapi juga memberi pangan, menjaga iklim, dan menyejahterakan desa,” ungkap Agus.


Dorong Hilirisasi Produk Nangka


Direktur Penunjang Bisnis PT Pertamina (Persero), M. Erry Sugiharto, menilai pengembangan potensi lokal perlu dilanjutkan hingga tahap hilirisasi.


Menurut dia, hilirisasi tidak hanya dapat diterapkan pada sektor pertambangan, tetapi juga pada komoditas pangan yang tumbuh dan dikembangkan masyarakat desa.


“Hilirisasi tidak hanya milik sektor pertambangan, tetapi bisa kita mulai dari sebatang pohon nangka untuk mendukung swasembada pangan serta harmoni lingkungan,” kata Erry.


Sebagai bentuk dukungan terhadap aktivitas petani, Pertamina Foundation juga menyerahkan dua unit kendaraan angkut roda tiga. Kendaraan tersebut diperuntukkan mendukung mobilitas hasil panen kelompok tani.


Selain itu, diserahkan 20 paket bantuan pendidikan SESAMA berupa tas dan alat tulis sekolah bagi anak-anak di sekitar kawasan hutan.

Rangkaian kegiatan panen raya kemudian ditutup dengan tradisi Kembul Bujono, yakni makan bersama dengan menikmati berbagai olahan nangka yang dibuat masyarakat lokal.


Suasana syukuran semakin terasa dengan alunan musik tradisional Rinding Gumbeng, kesenian khas Gunungkidul yang mengiringi masyarakat dalam merayakan hasil panen.


Melalui kolaborasi Pertamina, Pertamina Foundation, pemerintah daerah, UGM, dan masyarakat tani, Hutan Lestari Wanaboga Nangka diharapkan berkembang menjadi model pengelolaan hutan pangan di kawasan lahan kering.


Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk memperkuat ketersediaan bahan baku nangka bagi industri kuliner Yogyakarta, tetapi juga meningkatkan kemandirian ekonomi petani sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan. (Fzn)

💬 Diskusi Pembaca

0 Komentar

Jadilah yang pertama berdiskusi...