PEDOMANJOGJA

Belajar dari Bali, Bank Indonesia Dorong Desa Wisata di DIY Terus Berinovasi

Redaksi

Redaksi

09 Oct 2026, 09:22 WIB
Belajar dari Bali, Bank Indonesia Dorong Desa Wisata di DIY Terus Berinovasi
Bank Indonesia Kantor Perwakilan (KPW) DIY mengajak 12 pengelola desa dan kampung wisata di Yogyakarta belajar mengenai pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat melalui kegiatan capacity building selama tiga hari di Bali. Kamis, (08/10/2026).

Pedomanjogja.com (BALI) – Bank Indonesia Kantor Perwakilan (KPW) DIY mengajak sejumlah pengelola desa dan kampung wisata di Yogyakarta belajar mengenai pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat melalui kegiatan capacity building di Bali. Kamis, (08/10/2026).


Kegiatan tersebut diikuti 12 peserta dari sejumlah desa dan kampung wisata di daerah Istimewa Yogyakarta. Mereka mengunjungi Desa Wisata Taro dan Desa Wisata Panglipuran, salah satu desa wisata terbaik di indonesia untuk bisa mempelajari secara langsung pengelolaan desa wisata sekaligus menggali ide yang dapat diterapkan di daerah masing-masing.


Akademisi sekaligus pemerhati pariwisata, Eko Suseno, mengatakan kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi para pengelola desa wisata di Yogyakarta untuk belajar secara langsung mengenai pengelolaan desa wisata yang dinilai telah berjalan secara profesional.


Menurut Eko, salah satu metode yang diterapkan dalam kegiatan tersebut adalah CDI, yakni Copying, Developing, dan Innovation. Metode ini mendorong peserta untuk mempelajari praktik yang sudah berjalan, mengembangkannya sesuai kebutuhan daerah, kemudian menciptakan inovasi baru.


“Kita hari ini belajar dari teman-teman di sini tentang bagaimana pengelolaan desa tersebut, plus ada satu sesi di mana kami diskusi belajar tentang bagaimana membangun sebuah desa wisata,” kata Eko.


Pembelajaran tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari tata kelola manajemen, pengembangan produk wisata, pelayanan kepada wisatawan, hingga membangun kolaborasi dan promosi.


Eko menilai kolaborasi menjadi salah satu hal penting agar potensi desa wisata dapat semakin dikenal dan memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat.

Ia juga mengajak masyarakat untuk berkunjung ke desa wisata sebagai salah satu upaya menggerakkan perekonomian masyarakat di tingkat desa.


“Teman-teman harus melakukan kolaborasi untuk mengembangkan desanya, wisatanya masing-masing dan mempromosikannya untuk menjadi desa wisata itu dikenal dan semakin dicintai,” ujarnya.


BELAJAR KEBERLANJUTAN DARI DESA WISATA TARO


Kepala Unit FPPU-KIS Bank Indonesia KPW DIY, Maya Mulyawati, mengatakan kunjungan ke Bali dilakukan untuk memberikan inspirasi kepada para pengelola desa wisata dari Daerah Istimewa Yogyakarta.


Dua lokasi lokasi yang menjadi tujuan pembelajaran adalah Desa Wisata Taro dan desa wisata Panglipuran. Menurut Maya, kedua desa wisata tersebut memberikan contoh bagaimana potensi alam dan budaya lokal dapat dikelola menjadi daya tarik wisata sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar.


“Saya melihat ini sangat menginspirasi karena berkelanjutan, melihat alamnya dan memanfaatkan budaya lokalnya untuk menjadi daya tarik wisata para wisatawan,” kata Maya.


Maya menegaskan, praktik yang dipelajari di Bali tidak harus diterapkan secara sama persis di Yogyakarta. Setiap desa wisata dinilai memiliki karakteristik dan potensi masing-masing yang dapat dikembangkan sesuai kondisi setempat.


“Tidak perlu sama, tidak harus sama, tapi juga kami harapkan bisa meningkatkan terus nilai ekonomi di masyarakat sekitar,” ujarnya.


PESERTA DAPATKAN IDE UNTUK DIKEMBANGKAN


Salah satu peserta dari Desa Wisata Grogol, Esti Handayani, mengaku mendapatkan banyak inspirasi selama mengikuti kegiatan capacity building selama tiga hari di Bali.

Selain Desa Wisata Taro, peserta juga mengunjungi Desa Wisata Panglipuran. Dari kunjungan tersebut, Esti melihat banyak hal yang dapat menjadi referensi untuk mengembangkan desa wisatanya.


“Luar biasa banyak sekali yang bisa kami ambil, ide inovasi yang untuk kami terapkan di desa wisata kami,” kata Esti.


Menurutnya, materi yang diberikan para narasumber juga membuka wawasan peserta untuk melihat kembali berbagai potensi yang sebenarnya sudah dimiliki desa, tetapi selama ini belum terpikirkan untuk dikembangkan sebagai bagian dari produk wisata.


“Bagaimana kami bisa menjahit banyak potensi yang ada di tempat kami. Dan ada beberapa yang sebetulnya bisa kami lakukan untuk desa wisata kami, tapi selama ini kami tidak terpikirkan,” ujarnya.


Esti berharap pembelajaran yang diperoleh selama kegiatan tersebut dapat diterapkan di Desa Wisata Grogol sehingga potensi yang dimiliki dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata yang lebih baik. (Fzn)

💬 Diskusi Pembaca

0 Komentar

Jadilah yang pertama berdiskusi...