Pedomanjogja.com (Yogyakarta) – Ribuan wisatawan dan masyarakat memadati kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Sabtu (29/8/2026) malam. Mereka antusias menyaksikan atraksi Sabetan Pencak, yang menjadi bagian dari rangkaian Pencak Wisata Budaya ke-5 (PWB) 2026.
Berbeda dari pertunjukan pencak silat pada umumnya, Sabetan Pencak dikemas dengan konsep battle antarkelompok. Pertunjukan ini mengadopsi format seperti battle dance, tetapi seluruh gerakan yang ditampilkan merupakan jurus-jurus pencak silat.
Para pesilat menampilkan laga, peragaan jurus, hingga aksi saling serang dan bertukar teknik. Seluruh rangkaian dikemas secara atraktif dan interaktif sehingga mampu menarik perhatian wisatawan yang berada di kawasan Malioboro.
Pertunjukan tersebut sekaligus menjadi agenda pamungkas Festival Pencak Silat DIY 2026, setelah rangkaian kegiatan pelestarian warisan budaya takbenda berlangsung sejak Kamis (27/8/2026).
Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, mengatakan Sabetan Pencak merupakan salah satu inovasi untuk mendekatkan pencak silat kepada generasi muda.
“Dan kita melihat ini di tahun 2026 yang terbaru adalah Sabetan Pencak. Ini adalah cara bagaimana generasi muda tertarik terhadap pencak silat,” kata Dian.
Menurut Dian, konsep tersebut lahir dari kreativitas generasi muda yang berupaya menghadirkan pencak silat dalam bentuk yang lebih dekat dengan masyarakat dan dunia pariwisata.
“Ini juga merupakan inisiatif teman-teman generasi mudanya sendiri, bagaimana mereka memaknai pencak silat secara menyenangkan. Tetapi juga bisa membawa hiburan untuk masyarakat,” ujarnya.
Dian berharap ruang ekspresi seperti Pencak Wisata Budaya dapat terus dilaksanakan secara konsisten. Selain menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan budaya lokal, kegiatan tersebut juga dinilai dapat memberikan nilai tambah bagi sektor pariwisata DIY.
“Saya kira itu makna dan nilai penting dari festival pencak ataupun Pencak Wisata Budaya dari teman-teman Paseduluran Angkringan Silat,” tutur Dian.
DIKEMAS AGAR DEKAT DENGAN GENERASI MUDA
Penyelenggara Pencak Wisata Budaya dari Paseduluran Angkringan Silat, Suryadi, mengatakan Sabetan Pencak sengaja dikemas dengan konsep yang lebih menarik agar pencak silat tradisional tetap mendapat tempat di kalangan anak muda.
Menurutnya, generasi muda masih memiliki ketertarikan terhadap tradisi pencak silat. Namun, bentuk penyajiannya perlu disesuaikan dengan perkembangan zaman.
“Sabetan Mencak ini adalah idenya bagaimana anak-anak muda sekarang, kalau dalam bahasa sekarang adalah masih tertarik dengan tradisi budaya pencak silat. Sehingga kami dengan teman-teman membuat event bagaimana ini bisa menarik. Maka kita adakan seperti battle,” kata Suryadi.
Dalam pertunjukan tersebut, para peserta tidak hanya mengandalkan kemampuan fisik. Kreativitas dalam mengolah gerakan dan menyusun penampilan juga menjadi bagian penting dari pertunjukan.
“Bagus-bagusan penampilan yang kemudian kita kolaborasikan dengan bagaimana pencak itu ditampilkan dalam konsep yang menarik, yang menyenangkan. Dan anak-anak sekarang ini ternyata suka,” ujarnya.
Suryadi menyebut pertunjukan Sabetan Pencak di Titik Nol Kilometer berlangsung selama sekitar empat jam. Ia berharap konsep tersebut dapat terus dikembangkan pada penyelenggaraan berikutnya.
BUKAN SEKADAR BELA DIRI
Bagi Suryadi, memperkenalkan pencak silat kepada generasi muda bukan sekadar menunjukkan kemampuan bela diri. Pencak silat juga membawa nilai kebersamaan, kerukunan, kekompakan, dan saling mendukung.
“Ini salah satu cara kita untuk menyebarkan bagaimana pencak silat ini menjadi sebuah tradisi yang kemudian ini bukan hanya dalam kekerasan tentunya, tetapi ini sebagai bagaimana kita bisa menguasai semuanya, bisa saling support, saling rukun, saling kompak semuanya.”
Rangkaian Pencak Wisata Budaya 2026 sebelumnya juga melibatkan praktisi pencak silat, masyarakat, serta mahasiswa asing Universitas Gadjah Mada dalam berbagai kegiatan, termasuk workshop dan kegiatan budaya di Turi, Sleman.
Suryadi berharap Sabetan Pencak yang digelar tahun ini dapat menjadi fondasi awal untuk mengembangkan konsep serupa menjadi kegiatan yang lebih besar.
“Sehingga harapan kami mudah-mudahan di tahun ke depan nanti bisa kita lombakan dengan konsep yang jauh lebih bagus. Karena ini sebagai embrionya atau fondasinya.”
Melalui konsep tersebut, pencak silat diharapkan tidak hanya tetap hidup sebagai warisan budaya, tetapi juga mampu hadir dalam bentuk pertunjukan yang menarik, relevan, dan dapat dinikmati generasi muda serta wisatawan. (Fzn)