Pedomanjogja.com (Sleman) - Sebanyak 568 wisudawan dan wisudawati Politeknik Agraria STPN Yogyakarta resmi menyelesaikan pendidikan Program Studi Sarjana Terapan Pertanahan Tahun Akademik 2025/2026.
Wisuda yang berlangsung di Pendopo Sasana Widya Bhumi, Politeknik Agraria STPN, Sleman, Sabtu (5/09/2026), menjadi momentum penting setelah Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) bertransformasi menjadi Politeknik Agraria STPN.
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid yang hadir dan mewisuda para lulusan menekankan pentingnya integritas bagi sumber daya manusia di bidang agraria, pertanahan, dan tata ruang.
Menurut Nusron, persoalan agraria dan pertanahan di Indonesia bukan perkara sederhana. Luas wilayah, kebutuhan pembangunan yang terus berkembang, serta tuntutan masyarakat terhadap pelayanan publik membuat Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi sekaligus integritas.
“Karena itu, kita membutuhkan sumber daya manusia yang memahami persoalan pertanahan secara utuh, menguasai teknologi, mampu bekerja secara profesional, dan yang paling penting, memiliki integritas,” kata Nusron.
Nusron juga mengingatkan para lulusan bahwa pekerjaan di bidang pertanahan berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat. Tanah tidak hanya berkaitan dengan aspek administrasi, tetapi juga tempat tinggal, mata pencaharian, investasi, pembangunan, hingga masa depan keluarga.
“Di mana pun Saudara bekerja, integritas harus dijaga. Saudara akan berhadapan dengan tanah yang menyangkut kehidupan masyarakat, tempat tinggal, mata pencaharian, investasi, pembangunan, bahkan masa depan keluarga. Karena itu, pekerjaan di bidang pertanahan dan agraria membutuhkan tanggung jawab moral yang sangat besar,” ujarnya.
Ia berharap ilmu yang diperoleh selama pendidikan dapat digunakan untuk menjalankan tugas dan memberikan pengabdian terbaik kepada masyarakat.
Transformasi Politeknik Agraria STPN, menurut Nusron, juga diharapkan semakin memperkuat pendidikan vokasi dan menghasilkan sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan di bidang agraria, pertanahan, dan tata ruang.
Dalam kesempatan tersebut, Sekretaris Daerah DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti juga menyoroti pentingnya peran ilmu pertanahan dalam memberikan kepastian hak kepada masyarakat.
Menurut Ni Made, kepastian hak tidak cukup hanya dengan kebijakan. Diperlukan perangkat kelembagaan dan tata kelola yang mampu menerjemahkan kebijakan menjadi kemanfaatan nyata.
“Di sinilah ilmu pertanahan memperoleh kedudukan strategis. Ilmu pertanahan bekerja di antara ukuran dan makna, antara peta dan manusia, antara sertifikat dan juga martabat,” ujar Ni Made.
Ia juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah cara manusia mengukur, mencatat, menganalisis, dan mengelola tanah. Teknologi geospasial, penginderaan jauh, wahana nirawak, big data, hingga kecerdasan artifisial kini menjadi bagian dari perkembangan pengelolaan pertanahan.
Namun, menurut Ni Made, kemajuan teknologi tetap harus diiringi dengan pertimbangan etika dan kemanusiaan.
“Teknologi memang dapat menunjukkan koordinat sebidang tanah, tetapi sejarah, harapan, dan keadilan yang hidup di baliknya hanya dapat dibaca dengan nurani dan kebijaksanaan,” katanya.
Sementara itu, Plt. Direktur Politeknik Agraria STPN Sri Yanti Achmad menyebut wisuda perdana setelah transformasi institusi tersebut sebagai momentum istimewa bagi para lulusan maupun seluruh civitas academika.
“Kelulusan hari ini merupakan buah dari kerja keras, ketekunan, dan perjuangan yang telah dilalui selama menempuh pendidikan. Kami berharap para lulusan dapat membawa ilmu dan kompetensi yang diperoleh untuk memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat, khususnya dalam menghadapi berbagai tantangan di bidang agraria, pertanahan, dan tata ruang,” tutur Sri Yanti.
Dari 568 lulusan, tiga taruna dan taruni meraih predikat lulusan terbaik. Mereka yakni Susana Nadia Putri Betan, taruni tugas belajar utusan Kanwil BPN Provinsi NTT dengan IPK 3,94; Novita Ayu Kustianingsih, taruni tugas belajar utusan Kanwil BPN Provinsi Riau dengan IPK 3,91; serta Ni Luh Putu Ananda Pertiwi, taruni tugas belajar utusan Kanwil BPN Provinsi Lampung dengan IPK 3,90.
Prosesi wisuda ditandai dengan penyerahan ijazah oleh Menteri Nusron Wahid dan Wakil Menteri ATR/Wakil Kepala BPN Ossy Dermawan. Acara kemudian dilanjutkan dengan pelepasan atribut serta penyerahan Kartu Anggota Keluarga Alumni Pendidikan Tinggi (KAPTI) Agraria. (Fzn)