PEDOMANJOGJA

Kuliah Perdana Mahasiswa Baru STIPRAM Diawali Makan Sego Berkat, Kenalkan Budaya Jawa

Redaksi

Redaksi

02 Sep 2026, 09:07 WIB
Kuliah Perdana Mahasiswa Baru STIPRAM Diawali Makan Sego Berkat, Kenalkan Budaya Jawa
Kenalkan tradisi dan budaya Jawa, Sekitar 500 mahasiswa baru STIPRAM Yogyakarta diajak makan bersama Sego Berkat yang dibungkus menggunakan daun jati, Senin (31/8/2026).

Pedomanjogja.com (Bantul) - Kuliah perdana mahasiswa baru Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo (STIPRAM) Yogyakarta tahun ajaran 2026/2027 berlangsung dengan suasana berbeda. Sekitar 500 mahasiswa baru diajak makan bersama Sego Berkat yang dibungkus menggunakan daun jati, Senin (31/8/2026).


Tradisi makan bersama tersebut menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-25 STIPRAM. Kegiatan mengusung tajuk “Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh”.


Bukan sekadar makan bersama, kegiatan ini menjadi momentum bagi STIPRAM untuk menyambut mahasiswa baru sekaligus mengenalkan budaya Jawa, khususnya budaya Yogyakarta. Para mahasiswa baru tersebut berasal dari berbagai daerah di Indonesia dengan latar belakang budaya yang beragam.


Ketua STIPRAM, Dr. Suhendroyono, mengatakan sekitar 500 mahasiswa baru dari program S1 dan D3 mulai menjalani proses pendidikan di STIPRAM pada tahun ajaran 2026/2027.


Ia berharap para mahasiswa dapat mengikuti seluruh proses pendidikan dengan baik sehingga berkembang menjadi sumber daya manusia yang memiliki kompetensi di bidang pariwisata.


“Kami berharap semua bisa berproses dengan sebaik mungkin dan nantinya bisa bertumbuh, berkembang dan menjadi insan pariwisata yang utuh, berkompeten di bidangnya,” ujarnya.


Sego Berkat Jadi Media Mengenalkan Budaya Jawa


Wakil Ketua I STIPRAM, Dr. Nur Syamsu, menjelaskan pemilihan Sego Berkat yang dibungkus dengan daun jati memiliki makna tersendiri.

Menurutnya, penggunaan makanan tradisional dan wadah berbahan alami tersebut merupakan bagian dari upaya nguri-uri atau melestarikan budaya Jawa.


Pada saat yang sama, penggunaan daun jati juga dinilai dapat membantu mengurangi sampah dari kemasan sekali pakai.


“Sesuai dengan apa yang menjadi arahan Pak Ketua, bahwa kami ini ingin nguri-uri budaya ning Jawa. Sekarang ini ada mata kuliah terutama untuk budaya Yogyakarta, maka dari itu kami memulai untuk itu. Di sisi lain sekaligus mengurangi sampah kemasan,” jelas Nur Syamsu.


Ia mengatakan pendidikan mengenai budaya Yogyakarta nantinya diintegrasikan ke dalam mata kuliah yang telah ada di STIPRAM.


Upaya tersebut dinilai penting mengingat mahasiswa STIPRAM berasal dari berbagai daerah, bahkan terdapat mahasiswa dari Azerbaijan. Kondisi tersebut membuat lingkungan kampus menjadi ruang bertemunya mahasiswa dengan beragam latar belakang budaya.


Nilai Gotong Royong Relevan dengan Dunia Hospitality


Nur Syamsu menilai nilai-nilai budaya Jawa seperti kerukunan, kekompakan dan gotong royong memiliki kaitan erat dengan dunia hospitality atau keramahtamahan.


Menurutnya, nilai tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk karakter mahasiswa yang nantinya bekerja di sektor pariwisata.


“Terutama budaya Jawa, kita bisa rukun, kompak, gotong royong. Ini mengawali bagaimana hospitality orang Indonesia itu bisa muncul,” katanya.


Ia berharap nilai-nilai tersebut tidak berhenti sebagai pengetahuan selama mahasiswa menempuh pendidikan di kampus. Ketika nantinya memasuki dunia kerja, para lulusan diharapkan mampu membawa nilai keramahtamahan dan budaya Indonesia, termasuk ketika berkarier di luar negeri.


“Bahkan sekarang kami bekerja sama dengan pemerintah bagaimana nanti mahasiswa-mahasiswa atau lulusan-lulusan yang ke luar negeri itu bisa menularkan apa yang menjadi budaya orang Indonesia,” lanjutnya.


Melalui makan bersama Sego Berkat, STIPRAM berupaya menjadikan pengenalan budaya sebagai bagian dari pengalaman mahasiswa sejak awal memasuki dunia perguruan tinggi.


Tradisi sederhana tersebut sekaligus menjadi simbol kebersamaan bagi ratusan mahasiswa baru yang datang dari berbagai daerah. Di tengah keberagaman itu, nilai kerukunan dan gotong royong diharapkan menjadi bekal bagi mereka untuk tumbuh sebagai insan pariwisata yang kompeten sekaligus mampu membawa identitas budaya Indonesia di tengah industri pariwisata global. (Fzn)

💬 Diskusi Pembaca

0 Komentar

Jadilah yang pertama berdiskusi...