Pedomanjogja.com (Yogyakarta) - Perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menunjukkan kinerja positif pada triwulan II 2026. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) DIY tumbuh 5,75 persen secara tahunan (year on year), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 5,29 persen.
Pertumbuhan ekonomi DIY ditopang oleh sejumlah sektor, terutama konsumsi rumah tangga yang tumbuh 4,80 persen. Kinerja tersebut sejalan dengan aktivitas pariwisata dan perdagangan masyarakat yang tetap terjaga.
Selain konsumsi, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) juga tumbuh 6,95 persen, seiring berlanjutnya sejumlah proyek infrastruktur strategis di DIY.
Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi antara lain ditopang industri pengolahan yang tumbuh 5,40 persen, penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 10,56 persen, serta konstruksi yang tumbuh 7,82 persen secara tahunan. Pertumbuhan sektor akomodasi dan makan minum sejalan dengan peningkatan okupansi hotel serta aktivitas kunjungan wisatawan yang tetap terjaga.
INFLASI DIY MASIH TERKENDALI
Di tengah pertumbuhan ekonomi yang positif, stabilitas harga di DIY juga relatif terjaga. Pada Agustus 2026, inflasi tahunan DIY tercatat sebesar 3,07 persen, masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1 persen. Angka tersebut memang sedikit lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang sebesar 2,54 persen.
Namun, pengendalian inflasi terus diperkuat melalui sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY dengan kerangka 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Kondisi tersebut menunjukkan perekonomian DIY masih berada pada jalur pertumbuhan positif dengan stabilitas harga yang relatif terjaga.
BI SOROT SEJUMLAH TANTANGAN EKONOMI DIY
Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY, Sri Darmadi Sudibyo, mengatakan capaian tersebut tetap dihadapkan pada berbagai tantangan, baik yang berasal dari dinamika global maupun domestik.
Di tingkat global, ketidakpastian masih dipengaruhi dinamika kebijakan tarif perdagangan Amerika Serikat, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta percepatan transformasi teknologi digital dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang turut mengubah lanskap industri.
Sri Darmadi menyebut kehadiran Yogyakarta Economic Symposium (YES) menjadi salah satu upaya untuk mempertemukan berbagai pemikiran mengenai persoalan ekonomi terkini, dengan melibatkan praktisi, akademisi, dan pengambil kebijakan di DIY.
YES merupakan transformasi dari Jogja Economic Forum (JEF) yang sebelumnya telah menjadi agenda tahunan Kantor Perwakilan Bank Indonesia DIY. Sejak 2025, forum tersebut direbranding menjadi YES untuk memperkuat peran BI dalam menghadirkan forum ekonomi yang lebih inklusif, prestisius, dan berbasis kajian kebijakan.
SEKDA DIY: KETERHUBUNGAN ANTARPELAKU EKONOMI PERLU DIPERKUAT
Sementara itu, Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwi Panti Indrayanti, mengatakan struktur perekonomian DIY selama ini banyak ditopang sektor jasa, pariwisata, pendidikan, ekonomi kreatif, dan UMKM.
Namun, menurutnya, tantangan ke depan adalah memperkuat keterkaitan sektor-sektor tersebut dengan industri, teknologi, inovasi, dan rantai nilai sehingga mampu meningkatkan produktivitas sekaligus nilai tambah ekonomi daerah.
“Keterhubungan antar pelaku ekonomi belum sepenuhnya kuat,” ujar Ni Made.
Ia menjelaskan, kebutuhan keterampilan di dunia kerja belum selalu terhubung dengan pendidikan dan pelatihan. Di sisi lain, UMKM juga masih perlu didorong agar lebih mudah masuk ke rantai pasok dan pasar yang lebih luas.
Hal serupa terjadi pada hasil penelitian dan inovasi yang dinilai masih perlu lebih banyak diterapkan oleh dunia usaha. Sementara investasi dan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi juga perlu semakin terhubung dengan wilayah yang memiliki potensi.
“Penguatan keterhubungan antar pelaku ekonomi diperlukan untuk membangun ekosistem yang lebih produktif dan berdaya saing.” jelasnya.
Ni Made menekankan transformasi ekonomi DIY membutuhkan sinergi dan kerja bersama antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan dunia usaha.
YES 2026 DORONG EKONOMI BERBASIS RISET
Dalam rangkaian YES 2026, sejumlah kegiatan juga digelar, di antaranya Call for Paper YES 2026 dan kompetisi ISEI Forecaster.
Call for Paper mengangkat tiga subtema utama, yakni transformasi ekonomi digital, penguatan ekonomi kreatif berbasis budaya, serta strategi ketahanan pangan.
Menurut BI DIY, ketiga isu tersebut relevan dengan tantangan strategis saat ini. Transformasi digital menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan daya saing daerah, sementara ketahanan pangan menjadi fondasi penting untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah dinamika iklim dan geopolitik global. (Fzn)