PEDOMANJOGJA

300 Peserta dari Berbagai Daerah Ramaikan Lomba Seni Suara Alam Ayam Bekisar Piala Jogja Istimewa

Redaksi

Redaksi

27 Sep 2026, 18:36 WIB
300 Peserta dari Berbagai Daerah Ramaikan Lomba Seni Suara Alam Ayam Bekisar Piala Jogja Istimewa
Ketua DPRD DIY Nuryadi, S.Pd. Membuka Lomba Nasional Seni Suara Alam Ayam Bekisar Piala Jogja Istimewa ke-3 di Lapangan Pandowoharjo, Sleman. Minggu (29/09/2026)

Pedomanjogja.com (Sleman) - Suara ayam bersahutan dari Lapangan Pandowoharjo, Sleman, Minggu (27/9/2026). Ratusan peserta dan penggemar ayam bekisar berkumpul dalam Lomba Nasional Seni Suara Alam Ayam Bekisar Piala Jogja Istimewa ke-3.


Sekitar 300 peserta ambil bagian dalam ajang yang tidak hanya menjadi arena kompetisi seni suara alam, tetapi juga mempertemukan komunitas pegiat ayam bekisar, pelestari satwa, dan masyarakat dari berbagai daerah.


Peserta datang dari sejumlah wilayah, mulai dari Madura, Surabaya, Magelang, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Bali hingga Lombok.

Memasuki tahun ketiga penyelenggaraan, lomba ini menunjukkan bahwa seni suara alam ayam bekisar masih memiliki peminat yang cukup besar. Di sisi lain, kegiatan tersebut juga dinilai memiliki potensi untuk mendukung pelestarian lingkungan sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.


Nuryadi: Bukan Sekadar Lomba Ayam


Ketua DPRD DIY Nuryadi, S.Pd., mengapresiasi konsistensi penyelenggaraan Lomba Nasional Seni Suara Alam Ayam Bekisar Piala Jogja Istimewa.


Menurutnya, kegiatan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan kompetisi ayam, tetapi juga memiliki aspek pemberdayaan masyarakat dan pelestarian lingkungan.


“Ini adalah piala yang ketiga. Tentu ini menjadi bagian yang harus kita apresiasi, karena di sini ada peran yang luar biasa. Kita melihat potensi yang ada di lapangan, selain ayamnya, ternyata juga ada potensi pemberdayaan masyarakat di sini,” kata Nuryadi.


Nuryadi melihat aktivitas yang muncul di sekitar kegiatan tersebut dapat ikut menggerakkan perekonomian masyarakat. Menurutnya, pelestarian makhluk hidup juga menjadi bagian penting dalam menjaga lingkungan di Yogyakarta.


“Jadi yang kita lihat tidak sekadar ayam, tapi bagaimana kemudian ekonomi juga bergerak. Salah satu filosofi keistimewaan itu kan bagaimana kita menjaga kelestarian lingkungan kita, termasuk makhluk hidup yang ada di Yogyakarta,” ujarnya.


Dorong Dukungan Dana Keistimewaan


Nuryadi juga menyoroti aspek dukungan anggaran untuk keberlanjutan kegiatan. Ia mendorong agar ajang yang membawa nama Piala Jogja Istimewa tersebut dapat dipertimbangkan memperoleh dukungan melalui Dana Keistimewaan (Danais).


Menurutnya, dukungan Danais dapat memberikan ruang yang lebih fleksibel bagi keberlangsungan kegiatan yang berkaitan dengan budaya, komunitas, dan nilai-nilai keistimewaan Yogyakarta.


“Acara ini dikemas dengan nama Seni Suara Ayam Bekisar. Ini yang ketiga kalinya. Sangat bangga dan harus dilestarikan. Tapi kali ini kita belum menggunakan anggaran keistimewaan karena dikemas oleh Dinas Pariwisata,” kata Nuryadi.


Ia berharap skema dukungan tersebut dapat menjadi pertimbangan sehingga keberlangsungan kegiatan tidak terlalu terpengaruh ketika terjadi efisiensi anggaran pemerintah pusat.


“Menurut saya akan lebih fleksibel lagi jika apa pun yang namanya piala keistimewaan itu menggunakan Dana Keis, sehingga kelestarian bisa dijamin. Artinya kalau ada turbulensi anggaran di Jakarta, kita masih mencoba untuk bisa berjuang,” ujarnya.


Nuryadi menegaskan DPRD DIY siap menyampaikan aspirasi tersebut dalam pembahasan bersama pemerintah.


Sejalan dengan Hamemayu Hayuning Bawana


Sementara itu, Kepala DPKP DIY Aris Eko Nugroho mengatakan kegiatan seni suara alam ayam bekisar memiliki nilai filosofis yang sejalan dengan prinsip pelestarian lingkungan.


Menurutnya, kegiatan tersebut dapat menjadi bagian dari implementasi nilai budaya lokal Hamemayu Hayuning Bawana, yakni semangat menjaga keseimbangan dan kelestarian alam.


“Di sini kita melihat ada potensi luar biasa, tidak hanya dari sisi kelestarian satwanya tetapi juga pergerakan ekonomi masyarakat di sekitarnya. Melalui kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan warga, event ini menjadi sarana efektif dalam menggerakkan ekonomi berbasis kemasyarakatan,” kata Aris.


Kolaborasi tersebut menjadi salah satu unsur penting dalam penyelenggaraan lomba. Pemerintah, komunitas, dan masyarakat bertemu dalam satu kegiatan yang menggabungkan seni suara alam, pelestarian satwa, serta aktivitas ekonomi warga.


Empat Kategori Dipertandingkan


Kepala Sesi Acara Panitia Lomba, Rindang Rumboko, mengatakan sekitar 300 peserta mengikuti Lomba Nasional Seni Suara Alam Ayam Bekisar Piala Jogja Istimewa tahun ketiga.


Peserta berasal dari berbagai daerah, di antaranya Madura, Surabaya, Magelang, DIY, Bali hingga Lombok.

“Pesertanya sekitar 300 orang dan datang dari berbagai daerah. Antusiasmenya cukup tinggi karena kegiatan ini sudah memasuki tahun ketiga,” ujar Rindang.


Dalam kompetisi tersebut, terdapat sejumlah kategori yang dipertandingkan, yakni Ayam Hutan Merah, Ayam Hutan Hijau, Ayam Bekisar, dan Ayam Buras.


Rindang berharap kegiatan tersebut dapat terus berkembang pada penyelenggaraan berikutnya. Tidak hanya jumlah peserta yang bertambah, tetapi juga masyarakat yang terlibat semakin luas.


“Harapannya ke depan bisa semakin besar, pesertanya semakin banyak, sehingga masyarakat yang terlibat juga semakin luas,” katanya.


Lomba Nasional Seni Suara Alam Ayam Bekisar Piala Jogja Istimewa pun menjadi ruang pertemuan berbagai komunitas dari sejumlah daerah di Indonesia.


Di tengah suara ayam yang bersahutan di Lapangan Pandowoharjo, kegiatan ini tidak hanya mempertahankan tradisi dan seni suara alam, tetapi juga membuka ruang bagi interaksi antarkomunitas, pelestarian satwa, serta aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar lokasi.


Kehadiran peserta dari luar daerah sekaligus memperluas jejaring komunitas dan memperkenalkan potensi budaya lokal Yogyakarta kepada masyarakat dari berbagai wilayah Indonesia. (Fzn)

💬 Diskusi Pembaca

0 Komentar

Jadilah yang pertama berdiskusi...